This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Selasa, 13 Juli 2010

WARALABA MASJID

Apabila kita melihat sekeliling kita, beterbarannya masjid ,mushola, atau Surau yang digunakan untuk melakukan Sholat berjamaah sudah menjadi suatu kelaziman. Satu desa memiliki 1 Masjid, 1 RT memiliki 1 mushola, jadi apabila satu desa ada 7 RT maka total masjid dan mushola ada 8 (1 masjid dan 7 Mushola).

Berlomba lomba dalam kebaikan itu harus.

Tapi apakah mendirikan tempat ibadah itu kebaikan ? YA.. itu jelas,,,

Apakah hanya selesai setelah masjid itu berdiri? TIDAK...


Itulah yang harus dipahami semua.. masjid/ mushola yang kini berdiri dengan megah, bahkan ada juga yang bingung dengan uang infaq jamaah yang mencapai 5 juta, maka di pakailah dana itu untuk perbaikan (memperindah bangunan dengan menambah kipas angin beberapa buah/ padahal sudal sudah ada 2). Bukan sesuatu yang salah, tapi perlu melihat efektifitas dan manfaatnya.

Sebuah bangunan yang sering kita kunjungi apabila kita orang yang taat beribadah...

Tapi jarang atau sedikit kita memikirkan dan mau berkecimpung untuk mengoptimalkannya.

Ibarat usaha, sudah ada modal berupa dana / uang / kepedulian dari beberapa ormas Islam. Tapi belum dapat dimaksimalkan (apabila tidak ma disebut tidak optimal).

Ada yang berkembang dari beberapa Masjid / mushola, jamaah ada lumayan, dana mengalir dari infaq... bangunan luar biasa hingga membangun bangunan baru untuk tempat pertemuan khusus jamaah. Acara pengajian pun tak kalah rutin seperti halaqoh setiap pekan. Tapi bila dilihat akan siapa yang hadir atau aktif dalam acara tersebut... rata rata sudah usia lanjut. Dan jarang sekali generasi muda muncul dalam acara acara tersebut.

Ini menandakan akan ada Lost Generation. Apabila terus dibiarkan...

Itulah GAMBARAN kebanyakan Masjid disekeliling kita.

Tapi masih ada masjid yang bisa kita jadikan referensi dalam pengelolaannya. Ada yang jamaahnya lumayan (terisi oleh kaum muda, orang tua juga ada), pengelolaannya juga bagus (sistem manajemen masjid dari kajian hingga mengurusi masalah muamalah), sistem kaderisasi juga ada (selalu ada stok generasi untuk meneruskan pengelolaan Masjid).

Dari sini, apaila kita mengibaratkan Masjid seperti satu perusahaan atau jenis usaha sebenarnya memiliki suatu persamaan. Ada yang perkembbangannya bagus, ada yang lambat bahkan ada yang bangkrut. Dan perkembangan sekarang, ada yang namanya sistem waralaba. Yang dari sisi manajemen sudah disediakan, perlengkapan pun sudah ada formatnya, tinggal jalan... dan ini mempermudah seseorang dalam membuat usaha.

Bilamana ada waralaba Masjid, ada keyakinan yang besar bahwa masjid pun bisa banyak yang berkembang dan teroptimalkan peranannya...

Adakah yang mau membuka WARALABA MASJID????

Jumat, 09 Juli 2010

Menuju dimensi spiritual



Dimensi Emosional dan Spiritual menjadi pendekatan dari berbagai profesi dan keilmuan. Munculnya konsep ESQ oleh Ary Ginanjar mengawali masyarakat di Indonesia mendekatkan diri ke sisi Emosional dan Spiritualnya. Hal ini bahkan di tanggapi positif oleh banyak korporasi di Negeri Nusantara ini. Peningkatan produktivitas perusahaan membuat konsep ini diterima. Selain itu lahir pula di luar Negeri konsep Emotional Quotion dengan berbagai macam pendekatan, mulai dari perilaku positif, berpikir positif, berjualan dengan memanfaatkan sisi emosional dan yang lainnya lagi. Muncl juga buku The 7 habits yang disusul buku selanjutnya The 8 Habits. Yang pada habit terakhir menyebutkan tentang spiritualitas.


Ya.. kita bisa merasakan sekarang, bahwa era masa ini adalah masa Emotional dan Spiritual.
Hermawan Kartajaya dalam bukunya Marketing Syariah mengatakan " saat ini dan masa datang , apalagi setelah pecahnya skandal keuangan di Amerika serikat dengan tumbangnya perusahaan – perusahaan raksasa, seperti Enron, WorldCom, atau Global Crossing, era pemasaran telah bergeser lagi ke arah Spiritual marketing.

Peristiwa ini menggambarkan bahwa ada pergeseran dari era jasadiyah (Fisik), ke era akal (intelektual Quotion) dan sekarang sudah memasuki era hati / emotional / spiritual.
Apabila kita mencermati, kata – kata emotional dan spiritual merupakan istilah untuk menutupi kecenderungan mereka pada fitroh hakiki yaitu Syariah. (orang lain luar membaca spiritual marketing dan kita menyebut marketing Syariah ). Sebenarnya kecenderungan ke arah Fitroh merupakan kecenderungan yang pasti merasuki ke jiwa setiap manusia. Tinggal apakan ada wadah yang bisa menampung kecenderungan itu.
Apabila dalam diri kita kecenderungan ke arah fitroh itu baru muncul. Ada saran yang bagus untuk anda :
  1. Lakukan perbuatan perbuatan kecil yang berkaitan dengan spiritual atau amal ibadah. ciptakan keberhasilan keberhasilan kecil tentang kebaikan. Karena satu kebaikan akan memunculkan kebaikan yang selanjutnya. (dalam bahasa Aa Gym : mulai dari yang kecil)

  2. Ciptakan atau cari lingkungan yang dapat menjaga kecenderungan.
    (siapa yang bergaul dengan pandai pesi maka akan terkena percikan baranya, siapa yang bergaul dengan pembuat minyak wangi maka akan terkena harumnya.)

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More