This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Senin, 19 Desember 2011

Membudayakan Etos KErja

TOTO TASMARA

PENDAHULUAN

Setiap pribadi muslim harus meyakini bahwa nilai iman akan terasa kelezatannya apabila secara nyata dimanifestasikan dalam bentuk amal saleh atau tindakan kreatif dan prestatif. Iman merupakan energi batin yang memberi cahaya pelita untuk mewujudkan identitas dirinya sebagai bagian dari umat yang terbaik "kuntum khairu ummat, ukhrijat linnaas” (Ali Imran :104)

Nabi saw pernah bersabda “ Yang dinamakan iman itu ialah apabila kau meyakini di dalam hati, menyatakannya dengan lisan,dan melaksanakannya dengan perbuatan (Al Hadits)

Kita disadarkan bahwa Islam bukanlah sekedar seperangkat konsep normatif ideal melainkan juga suatu bentuk praktik dari amal aktual , amal yang nyata. Islam bukan sekedar agama langit melainkan sekaligus agama yang dapat membumi(workable) Penghargaan Islam terhadap budaya kerja bukan hanya sekedar pajangan alegoris, penghias retorika, pemanis bahan pidato, indah dalam pernyataan tetapi kosong dalam kenyataan. Bekerja yang didasarkan pada,prinsip-prinsp iman bukan saja menunjukkan fitrah seorang muslim melainkansekalgus meninggikan martabat diriny sebagai abdullah yang rindu untuk menjadikan dirinya sebagai sosok yang bisa dipercaya.

Kesadaran bekerja bagi seorang muslim harus diringi oleh tujuan untuk menghasilka ssesuatu yang bermanfaat(shalih) yang kemudian menghasilkan sesuatu perbaikan (ishlah, improvement) untuk meraih nilai yang lebih bermakna. Bagi seorang muslim, makna bekerja berarti niat yang kuat untuk mewujudkan hasil kerja yang optimal. Dengan cara pandang seperti ini, sadarlah bahwa setiap muslim tidak akan bekerja secara asal-asalan.. Hal ini karena kesadaran bekerja secara produktif serta dilandasi semangat tauhid dan tanggung jawab uluhiah merupakan salah satu ciri yang khas dari karekter atau kepribadaian seorang muslim.

APA YANG DIMAKSUD DENGAN ETOS KERJA?

Etos berasal dari bahasa Yunani (Ethos) yang memiliki arti . 1. Sikap,kepribadian ,watak .karakter seta keyakinan atas sesuatu. Etos dibentuk oleh berbagai kebiasaan, pengaruh budaya serta sistem nilai yang diyakininya.Dari kata Etos dikenal pula kata etika,etiket yang hampir mendekati pengertian akhlak atau nilai-nilai yang berkaitan dengan baik buruk (moral) ,sehingga dalam etos terkandung gairah atau semangat yang amat kuat untuk mengerjakan sesuatu secara optimal,lebih baik dan bahkan berupaya untuk mencapai kualitas kerja yang sesempurna mungkin. Sikap seperti ini dikenal dengan ihsan. Senada dengan ihsan, di dalam alQur’an ditemukan pula kata itqan yang berarti proses pekerjaan yang sangat sungguh-sungguh,akurat, dan sempurna ( An Naml:88)

2. Etos menunjukkan pula sikap dan harapan seseorang(Raja’).Di dalam harapan tersimpan kekuatan dahsyat di dalam hatinya yang terus bercahaya,sehingga menyedot seluruh perhatiannya.Mereka yang ingin mewujudkan harapan atau cita-citanya memiliki sikap ketabahan yang sangat kuat,tidak gampang menyerah atau berganti haluan dari arah yang telah diyakininya karena mereka meyakini firman Allah dalam surat An Nahl :92 …”Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat menjadi cerai berai kembali.”

Etos kerja muslim adalah semangat untuk menapaki jalan yang lurus.

Sedangkan bentuk pekerjaan dapat dikategorikan pada 2 aspek berikut :

1. Aktivitas yang terdorong untuk mewujudkan sesuatu sehingga tumbuh rasa tanggungjawab yang besar untuk menghasilkan karya atau produk yang berkualitas. Baginya bekerja adalah ibadah,sebuah upaya untuk menunjukkan perfomance hidupnya di hadapan Illahi.

2. Apa yang dilakukan karena kesengajaan,sesuatu yang direncanakan .Karena didalamnya terkandung suatu gairah semangat untuk mengerahkan seluruh potensi yang dimilikinya sehingga hasilnya akan memberikan kepuasan dan manfaat.

Makna “bekerja” bagi seorang muslim adalah suatu upaya yang sungguh-sungguh dengan mengerahkan seluruh aset,pikit dan zikirnya untuk mengaktualisasikan atau menampakkan dirinya sebagai hamba Allah yang harus menundukkan dunia dan menempatkan dirinya sebagai bagaian dari masyarakat yang terbaik atau dengan kata lain bahwa hanya dengan bekerja manusia itu memanusiakan dirinya (QS Al Kahfi : 7)

Etos Kerja Muslim dapat didefinisikan sebagai bentuk kepribadian yang melahirkan keyakinan yang sangat mendalam bahwa bekerja itu bukan saja memuliakan dirinya,menampakkan kemanusiannya melainkan juga sebagai manifestasi dari amal saleh dan oleh karenanya mempunyai nilai ibadah yang sangat luhur.

Untuk membentuk watak generasi yang memiliki etos kerja yang tinggi tidaklah cukup hanya dengan pemberian nasihat tetapi juga dibutuhkan dua perangkat pembelajaran yaitu

1. Reward and penalty(cara belajar instrtumental)

2. Modelling (Keteladanan atau cara belajar observational) dengan menyampaikan beberapa pesan antara lain sbb:

- Bekerja adalah ibadah dan amanah dan Allah sangat mencintai orang yang bekerja.

- Menumbuhkan gerak kreativitas untuk mengembangkan dan memperkaya serta memperluas bidang pekerjaannya

- Menumbuhkan rasa malu hati yang mendalam jika pekerjaannya tidak dilaksanakan dengan baik.



Dengan berfikir seperti ini setiap pribadi muslim adalah tipikal manusia yang terus meronta, gelisah dan berfikir keras untuk secara dinamis mencari terobosan dan inocvasi serta aktivitas yang penuh arti dalam bentuk dinamika ,kreativitas yang terus mengalir tanpa kenal lelah.

Menumbuhkan etos kerja mulailah dengan merubah cara berfikir dengan merujuk kepada Alqur’an sehingga jadilah diri kita sebagai seorang yang selalu berfikir atas petunjuk Illahi.



KECANDUAN BERAMAL SHALEH

25 CIRI ETOS KERJA MUSLIM

Ciri-ciri orang yang mempunyai dan menghayati etos kerja akan tampak dalam sikap dan tingkah lakunya yang berlandaskan pada suat keyakinan yang sangat mendalam bahwa bekerja itu ibadah dan berprestasi itu indah.Seorang muslim sangat kecanduan untuk beramal saleh. Ada semacam dorongan yang sangat luar biasa untuk memenuhi hasrat memuaskan dahaga jiwanya yang hanya terpenuhi bila dia berbuat kesalehan tsb, yaitu :
1. Kecanduan terhadap waktu

Waktu adalah ladang kehidupan,kewajiban kita adalah menebar benih di atas ladang sang waktu untuk kemudian menikmatinya. Bila kita malas bersiaplah untuk memetik buah kemiskinan .Bila kita menanam kerja keras bersiaplah menuai keberhasilannya. Seorang muslim bagaikan kecanduan waktu. Dia tidak mau ada waktu yang hilang dan terbuang tanpa makna. Seseorang yang memiliki etos kerja sadar bahwa kehadirannya dimuka bumi bukanlah sekedar untuk ”being” melainkan ada semangat yang menggelora untuk mengisi waktu menuju kepada tingkatan becoming dan akhirnya memperoleh nilai disisi Allah dan menjadi bagian dari khairu ummah.

2. Memiliki moralitas yang bersih (Ikhlas)

Salah satu kompetensi moral yang dimiliki seseorang yang berbudaya kerja islami adalah nilai keikhlasan. Ikhlas merupakan bentuk bentuk dari cinta,bentuk kasih sayang dan pelayanan tanpa ikatan. Mereka memandang tugasnya sebagai pengabdian, sebuah keterpanggilan untuk menunaikan tugas-tugasnya sebagai salah satu bentuk amanah yang seharusnya demikian mereka lakukan. Segala sesuatu yang mengotori tugas dirinya berarti menghianati cinta dan karenanya berubah menjadi penghianatan terhadap amanah.

3. Kecanduan kejujuran

Prilaku jujur adalah prilaku yang diikuti oleh sikap tanggungjawab atas apa yang diperbuatnya tersebut atau integritas. Integritas dan kejujuran bagaikan dua sisi mata uang. Seseorang tidak cukup hanya memiliki keikhlasan dan kejujuran tetapi dibutuhkan pula nilai pendorong lainnya yaitu integritas. Akibatnya mereka siap menghadapi resiko dan seluruh akibatnya akan dihadapi dengan gagah berani. Budaya kerja islami sangat mendorong untuk melahirkan seseorang yang profesional sekaligus memiliki integritas yang tinggi.

4. Memiliki komitmen (Aqidah,Aqad,I’tiqad)

Komitmen adalah keyakinan yang mengikat (aqad) sedemikian kukuhnya sehingga membelenggu seluruh hati nuraninya dan kemudian menggerakkan prilaku menuju arah tertentu yang diyakininya (I’tiqad). Daniel Goldman penulis buku laris “Working with Emotional Intellegence” melaporkan hasil penelitiannya, “Orang yang berkomitmen adalah para warga perusahaan teladan.Mereka bersedia menempuh perjalanan lebih panjang dan berjuang keras menghadapi tekanan dan tantangan , Goldman mengindentifikasikan ciri-ciri orang yang berkomitmen antara lain sbb:
- Siap berkorban demi pemenuhan sasaran perusahaan yang lebih penting
- Merasakan dorongan semangat dalam misi yang lebih besar
- Menggunakan nilai-nilai kelompok dalam pengambilan keputusan dan penjabaran pilihan-pilihan
Dalam komitmen tergantung sebuah tekad,keyakinan yang melahirkan bentuk vitalitas yang penuh gairah. Mereka yang memiliki komitmen tidak mengenal kata menyerah,hanya akan berhenti bila kematian datang atau kiamat tiba.

5. Istiqomah,Kuat Pendirian

Pribadi muslim yang profesional dan berakhlak memiliki sikap konsisten yaitu kemampuan untuk bersikap secara taat asas,pantang menyerah dan mampu mempertahankan prinsip serta komitmennya walau harus berhadapan dengan resiko yang membahayakan dirinya. Seorang yang istiqamah tidak mungkin berubah dan berbelok arah betapapun godaan untuk mengubah tujuan begitu memikatnya.

6. Kecanduan Disiplin

Disiplin adalah kemampuan untuk mengendalikan diri dengan tenang dan tetap taat walaupun dalam situasi yang sangat menekan.Pribadi yang berdisiplin sangat berhati-hati dalam mengelola pekerjaan serta penuh tanggungjawab memenuhi kewajibannya. Disiplin adalah kebiasaan positif yang harus terus dipupuk dan ditingkatkan dari waktu ke waktu.

7. Konsekuen dan berani menghadapi tantangan (Challenge)

Orang yang konsekuen mempunyai kemampuan untuk mengendalikan dan mengelola emosinya menjadi daya penggerak positif untuk menapaki keyakinannya.

8. Memiliki sikap Percaya Diri

Percaya diri melahirkan kekuatan ,keberanian dan tegas dalam bersikap. Berani mengambil keputusan yang sulit walaupun harus membawa konsekuensi berupa tantangan atau penolakan. Orang yang pecaya diri angkas mengambil keputusan tanpa tampak arogan atau defensif dan mereka teguh mempertahankan pendiriannya. Sikap percaya diri memiliki ciri-ciri antara lain :
- Berani untuk menyatakan pendapat atau gagasannya sendiri walaupun hal tsb beresiko tinggi.
- Mampu menguasai emosinya walaupun berada dalam tekanan berat.
- Memiliki independensi yang sangat kuat sehingga tidak mudah terpengaruh oleh sikap orang lain walaupun pihak lain adalah mayoritas.

9. Kreatif

Pribadi muslim yang kreatif selalu ingin mencoba metode atau gagasan baru dan asli sehingga hasil yang diharafkan dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien. Goldman merangkum ciri-ciri orang yang kreatif (staf performer) antara lain sbb :

- Memiliki motivasi yang kuat untuk berprestasi
- Komitmen terhadap misi dan visi perusahaan atau kelompok
- Inisiatif dan optimisme
Adapun karakteristik orang yang kreatif menurut Pengarang dapat terpenuhi melalui beberapa tahapan yaitu sebagai berikut:
- Keterbukaan
- Pengendapan
- Reproduksi
- Evaluasi
- Pengembangan diri

10. Bertanggungjawab

Taqwa merupakan bentuk rasa tanggungjawab yang dilaksanakan dengan penuh rasa cinta dengan menunjukkan amal prestatif di bawah semangat pengharapan ridha Allah. Tanggungjawab = menanggung dan memberi jawaban. Pengertian taqwa dapat ditafsirkan sebagai tindakan bertanggungjawab dapat didefinisikan sebagai sikap dan tindakan seseorang di dalam menerima sesuatu sebagai amanah;dengan penuh rasa cinta ia menunaikannya dalam bentuk pilihan-pilihan yang melahirkan amal prestatif.

11. Bahagia karena melayani

12. Memiliki jiwa kepemimpinan

13. Memiliki orientasi ke masa depan

14. Hidup hemat dan efisien

15. Memiliki jiwa wiraswasta

16. Memiliki harga diri

17. Memiliki Insting bertanding

18. Keinginan untuk mandiri

19. Kecanduan belajar dan haus mencari ilmu

20. Memiliki semangat perantauan

21. Memperhatikan kesehatan dan gizi

22. Tangguh dan pantang menyerah

23. Berorientasi pada produktivitas

24. Memperkaya jaringan silaturahmi

25. Memiliki semangat perubahan

Penutup Mereka yang beretos kerja memiliki semangat untuk memberikan pengaruh positif kepada lingkungannya. Keberadaan dirinya diukur oleh sejauh mana potensi yang dimilikinya memberikan makna dan pengaruh yang mendalam pada orang lain. Keberadaannya memberikan pengaruh dan memberikan makna bagi kehidupan.

Jumat, 16 Desember 2011

12 Golden Rules Bagi Pemasar Indonesia


vp09

Ada 12 pelajaran berharga yang layak diperhatikan oleh para pemasar Indonesia menyongsong tahun 2012. Hal ini disampaikan oleh CEO dan Founder MarkPlus Hermawan Kartajaya dalam MarkPlus Conference 2012, di Pacific Place, Jakarta, Kamis (15/12/2011). Adapun 12 Golden Rules tersebut adalah:

1. GET the youth, women, netizen customers for the mind, market and heart share

2. KEEP the international market penetration in the turbulent world

3. GROW the big domestic market by widening the coverage

4. WIN BACK the fast-growing non Java Market

5. Start an INITIAL internet-based offering to tap one of the biggest online markets in the world

6. Launch an affordable luxury category with Indonesian culture flavor as your POTENTIAL offering

7. Add Urban Style to Your ESSENTIAL Line-ups

8. Go to Rural Market for Your EXISTENTIAL Offerings since They Are Hungry for Modern Lifestyle

9. Develop the right QUALITY according to the customer’s requirement. Don’t go too high or too low!!

10. Try to be better in your COST compared to competitor to deliver value for money

11. DELIVER your offering in online and offline channel

12. Think ahead to move from SERVICE to care for your customer, in B2B, B2C, or C2C industry

*Selengkapnya bisa dibaca di Majalah Marketeers edisi Januari “Marketer of the Year 2011″
sumber : http://the-marketeers.com/archives/12-golden-rules-bagi-pemasar-indonesia.html

Selasa, 13 Desember 2011

Pentingnya Mengukur Kepuasan Pelanggan



Berapa jumlah pelanggan yang kita puas? Apakah tingkat kepuasan pelanggan kita naik atau turun? Apakah kepuasan pelanggan kita lebih tinggi dibandingkan kepuasan pelanggan pesaing? Berapakah target kepuasan pelanggan di masa mendatang?

Tanpa melakukan pengukuran tingkat kepuasan pelanggan, tidaklah mungkin ke-empat pertanyaan di atas dapat dijawab. Karena itu, perusahaan yang percaya bahwa kepuasan pelanggan adalah hal yang penting, haruslah mengagendakan program pengukuran kepuasan pelanggan secara periodik. Hasil utama dari pengukuran kepuasan ini adalah dihasilkannya sebuah indeks kepuasan pelanggan yang dapat memberikan jawaban atas 4 pertanyaan tersebut.

Bicara mengenai indeks, yang sering kita bayangkan adalah sederetan formula yang sangat rumit. Sebenarnya, hal ini tidaklah selalu demikian. Menyusun suatu indeks kepuasan pelanggan, bisa menggunakan metode yang paling sederhana hingga metode yang sangat rumit. Indeks kepuasan yang digunakan dalam Indonesian Customer Satisfaction Award atau ICSA misalnya, adalah contoh indeks kepuasan yang relatif kompleks. Indeks ini disusun berdasarkan formula yang melibatkan analisa mutivariate seperti multiple regression.


Metode yang sederhana untuk menyusun indeks adalah dengan menggunakan pengukuran langsung berdasarkan hasil jawaban terhadap pertanyaan kepuasan pelanggan. Dalam hal ini, untuk menghasilkan indeks, tidak diperlukan penggunaan rumus-rumus yang rumit atau analisa statistik tingkat lanjut. Jumlah pertanyaan dapat hanya satu pertanyaan seperti “bagaimanakah kepuasan Anda secara keseluruhan terhadap produk X atau pelayanan Y atau perusahaan Z”.

Bisa juga digunakan lebih dari satu pertanyaan. Misalnya, ditanyakan kepuasan secara keseluruhan terhadap masing-masing driver kepuasan pelanggan yaitu kepuasan terhadap produknya, terhadap pelayanannya dan terhadap value atau harga yang diberikan oleh perusahaan itu. Setelah itu, hasilnya kemudian dirata-rata dengan memperhatikan bobot dari masing-masing driver kepuasan pelanggan.

Skala yang digunakan untuk menghasilkan indeks kepuasan pelanggan biasanya adalah 4, 5,6,7 atau skala 10. Kriteria pertama dari skala yang baik adalah sensitivitas. Oleh karena itu, skala kurang dari 4, jarang digunakan karena kurang sensitif atau kurang mampu membedakan tingkat kepuasan dari pelanggan. Misalnya, penggunaan skala binomial yaitu dimana responden memberikan jawaban “puas” atau “tidak puas”, dirasakan kurang halus dalam membedakan antara responden yang agak puas, puas dan sangat puas.

Kriteria kedua adalah tingkat reliabilitas. Dalam hal ini, banyak studi menunjukkan bahwa skala 5 dan 7, seringkali mempunyai tingkat reliabilitas yang cukup tinggi. Dengan skala 5, maka kepuasan pelanggan dibagi menjadi 5 kelompok yaitu respoden yang sangat tidak puas, tidak puas, netral, puas dan sangat puas. Tak mengherankan, skala 5 dan 7, adalah skala yang relatif favorit dalam pengukuran kepuasan pelanggan.

Skala 4 dan 6, biasanya disukai untuk para peneliti kepuasan pelanggan yang menggunakan “mailing” sebagai cara untuk mengumpulkan data. Dengan skala ini, tidak ada skor nilai tengah atau titik netral. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari kecenderungan responden yang asal isi dan memilih skor tengah dari skala yang digunakan.

Beberapa model pengukuran kepuasan pelanggan menggunakan skala 1-10. Dengan skala ini, tidak diberikan nama untuk setiap skala tetapi hanya kedua ujungnya saja yaitu skor 1 adalah sangat tidak puas dan skor 10 adalah sangat puas. Kelebihan dari skala ini adalah tingkat sensitivitasnya yang tinggi. Kelemahannya, responden, terutama yang tingkat pendidikannya tidak tinggi, akan mengalami kesulitan dalam memilih dan seringkali membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan skala lainnya.

Lalu bagaimana indeks dihasilkan ? Bila skala 1-5 digunakan, peneliti dapat menghasilkan indeks dalam bentuk mean atau rata-rata. Penggunaan indeks dengan nilai rata-rata ini sederhana tetapi kurang komunikatif dalam prakteknya. Bagaimana CEO dapat memberikan interpretasi bahwa tingkat kepuasan dari perusahaannya adalah 3.6 dari skala 1-5 ? Apakah artinya ? Karyawan akan sangat sulit untuk memahaminya. Padahal, salah satu cara untuk membuat indeks ini berharga adalah dengan mengomunikasikan kepada seluruh karyawan agar mereka tahu posisi perusahaan mereka dalam hal tingkat kepuasan pelanggan.

Karena itu, seringkali digunakan indeks dalam bentuk top two boxes index yaitu jumlah responden yang memberikan jawaban puas atau sangat puas. Jadi, bila indeks top two boxes menyatakan angka 80% maka dapat di-interpretasikan bahwa jumlah pelanggan yang terpuaskan adalah sebanyak 80% dan yang belum terpuaskan adalah 20%. Indeks semacam ini , lebih mudah dikomunikasikan. Bila skala yang digunakan adalah 1-7, bias digunakan indeks top three boxes yaitu penjumlahan dari jumlah responden yang menjawab skor 4, 5 dan 6.

Dalam situasi yang sangat kompetitif ini, perusahaan seringkali tertarik melihat jumlah responden yang hanya benar-benar puas atau delighted customer. Mengapa? Karena kelompok inilah yang ternyata benar-benar loyal. Mereka yang hanya puas, tingkat loyalitasnya ternyata hanya sedang. (www.marketing.co.id)

Minggu, 11 Desember 2011

Tombol Motivasi (Part 2-end)

Tombol Motivasi (Part 2-end)
Diambil dari buku ProFil
Seri NLP Populer

Anwar : Ya. tentu, Saya mau sekali. Di mana orangnya ? (sambil berdiri dan seluruh peserta tertawa)
RHW   : Untuk anda yang bekerja dalam bidang sales, memahami kriteria pelanggan anda sebelum anda menawarkan produk, akan sangat membantu sebelum mengarah ke proses closing. Misalnya, bila saya pedagang mobil. Datang seorang pelanggan yang ingin membeli mobil dengan Kriteria sebagai berikut : serba guna, mudah perawatan, hemat bahan bakar dan harga jualnya baik. Mobil apa yang kira kira cocok saya tawarkan pada calon pelanggan saya ini?
Pria      : Toyota Kijang.
Mei      : Panther.
Ronny   : Daihatsu Xenia atau Toyota Avanza.
RHW   : Ya. Sebaliknya, apa yang saya tawarkan bila ada pelanggan mencari mobil dengan Kriteria : model cangih, cepat dann ekslusif?
Ronny : Ferrari.
Mei      : BMW, Jaguar atau Mercy.
Megie  : Mazda RX-8 atau mobil Sport lainnya.
RHW   : Persis. Jadi tanyakan dulu apa Kriteria moil yang dicari sebelum kita menawarkan produk kepada calon pelanggan kita. semakin jelas Kriteria, semakin mudah kia memahami apa keinginannya. Dan pada saat kita menawarkan mobil yang persis dengan Kriteria yang diinginkan, garansi dia akan termotivasi untuk melakukan proses selanjutnya. Sama halnya dengan kita. Sebelum kita membeli sesuatu, kita pasti memiliki sejumlah Kriteria dari barang yang kita inginkan. sebagai contoh, ketika saya mau membeli tape recorder . Si pramuniaga bertanya : “Apa yang saya inginkan dari sebuah tape?”
Mei      : saya ingin Tanya pak, apa yang terjadi bila hanya sebagian saja dari Kriteria yang terpenuhi?
RHW   : Ini pertanyaan bagus. Seringkali orang memberikan Kriteria yang saling tumpang tindih dan sulit dipenuhi. Misalnya, ada orang yang mencari mobil dengan Kriteria: murah dan ekslusif. Saya kira dua Kriteria ini sulit dipenuhi secara berbarengan. Sebuah mobil yang murah harganya tentu tidak ekslusif, karena banyak orang yang mampu membelinya. Juga, terlalu banyak Kriteria membuat sulit dipenuhinya keinginannya. Misalnya, ada orang yang pacar dengan lebih dari 20 kriteria, antara lain : cantik, manis, pintar, kaya, setia, terkenal, putih , seksi, anak tunggal, saying keluarga, pandai memasak, betah di rumah, hemat dan seterusnya. Kita sebuat apa orang seperti ini?
Mei      : Orang yang sulit dipenuhi keinginannya.
Pia       : Orang yang lama mengambil keputusan dan akhirnya sering menunda mengambi keputusan.
Pongki : Tapi, mungkin saja kan dunia ini ada gadis semacam itu?
Mei      : Ya. Mungkin ada . Pertanyaannya apa dia MAU sama ANDA? (Kelas gerrrrr!) Tentu gadis dengan kelebihan seperti itu juga ingin mencari pacar yang ganteng, tanggung jawab, pinter, penyayang, dari kelaurga baik baik, masa depannya cerah, posisi tinggi, dst, dst.
RHW   : OK. Jadi untuk menjawab pertanyaan Mei, tidak ada patokan tentang jumlah Kriteria yang kita memiliki sebelum kita membeli sesuatu. Cuma, semakin banyak Kriteria menjadi semakin sulit dipenuhi dan bila ada Kriteria yang ‘tabrakan’ juga akan sulit dipenuhi.
            Dalam konteks keluarga, saya sering melihat konflik antara orang tua dan anaknya dalam memilih jodoh, misalnya. Sering anak menjadi frustasi karena Kriteria tentang pacar yang diinginkannya tidak cocok dengan Kriteria orang tuanya.
           
            Menurut saya, bila anda sekarang punya anak gadis atau jejaka yang sedang dalam poses berpacaran, lebih baik anda  melakukan bargaining lebih dahulu. pertama, katakana pada anak anda tentang Kriteria calon mantu yang anda inginkan. Kedua, dengarkan Kriteria anak anda dan kemudian cari kompromi dari keduanya. Kadang, orang tua tidak pernah maumengutarakan keinginannya dan tiba tibaketika anaknya memperkenalkan ‘calon’ ke rumahnya, orang tuanya menolak dan tanpa alasan!
Pongki : Tapi saya kira, karena yang mau kawin anaknya, sebaiknya Kriteria orang tuanya diabaikan saja!
RHW   : Sulit melakukan itu dalam kultur kita, kecuali anda orang tuanya sangat moderat. Dalam kultur Jawa, misalnya Kriteria bibit, bebet, bobot masih kental mewarnai keputusan keluarga dalam mencari jodoh untuk anaknya. memang, sekarang sudah mulai melunak persyaratan itu dan bahkan beberapa keluarga sudah mulai membebaskan pada pilihan anaknya masing masing. Jadi mungkin lebih baik apabila diadakan semacam ‘saling pengertian’ dulu antara anak dan orangtuanya.

            Sekarang mari kita terapkan alikasi Kriteria dalam bidang manajemne. Kriteria bisa dipakai ketika anda sedang mencari karyawan. Anda Tanya pada calon tersebut pertanyaan : “Apa yang anda inginkan dari sebuah pekerjaan?” Dengarkan jawabannya dan kalau Kriteria yang disebutkan sesuai dengan jenis pekerjaan yang ditawarkan berarti calon itu memenuhi Kriteria kita. Misalnya, Anda bergerak dalam bidang agne penjual rumah dan mencari calon yang memenuhi Kriteria : suka bergaul, pandai berkomunikasi senang dengan pekerjaan diluar ruangan. Dan katika calon memiliki Kriteria : lebih menyukai pekerjaan yang berhubungan dengan alat, duduk dibelakang meja dan tidak terlalu mengandalkan kegiatan fisik—saya kira ini tidak cocok dengan Kriteria property broker yang sedang kita cari.
Nelly   : Berarti Kriteria bisa juga dipakai ketika sedang mencari kerja?
RHW   : Ya. Hal yang sama berlaku sebaliknya. Ketika kita sedang melamar sebuah pekerjaan, ada baiknya anda mencari tahu atau menanyakan : “apa yang anda inginkan dari seorang calon karyawan?” Dengarkan jawabannya dan apakah cocok dengan Kriteria yang kita miliki. Percuma kita memaksa masuk ke sebuah pekerjaan yang tidak cocok dengan Kriteria kita, karena kita bisa frustasi dan tidak betah. Atau perusahaan itu yang tidak ‘betah’ dengan kita dan akhirya kita diberhentikan sebelum tiga bulan.
Nelly   : bukankah uang menjadi Kriteria atau motivator tertinggi buat seorang dalam mencari kerja?
RHW   : Tidak selalu. Mungkin buat calon yang baru lulus kuliah, mencari pengalaman lebih penting daripada uang sementara waktu. Saya kira untuk orang yang sudah cukup tua dan mempunyai keluarga, kepastian kerja akan lebih penting ketimbang sekedar uang. Apalagi seseorang yang usainya sudah 45 tahun, memiliki istri dan 3 orang anak mau pindah kerja dengan gaji yang lebih besar kalau basisnya adalah kontrak? saya ragu. Saya kira orang ini lebih memilih pekerjaan tetap karena setiap bulannya pasti membawa uang ke rumah untuk keperluan rumah tangganya, daripada memilih kerja kontrak yang setiap saat bisa diputus di tengah jalan dan tidak ada kepastian.
Nelly   : Ya. Masuk akal.
RHW   : Juga, saya sarankan pada anda yang masih muda dan masih memiliki karir panjang, sebaiknya anda memiliki track record yang baik. kalaupun pertimbangan anda mencari kerja hanya uang dan setiap 6 bulan seklai pindah kerja asal gajinya lebih besar, hal ini sangat berbahaya. Nantinya anda akan punya curriculum vitae yang buruk karena dikenal sebagai ‘kutu loncat’ dan pada suatu ketika anda akan kesulitan mencari kerja. Apalagi kalau anda mencari kerja dengn posisis manajerial. Seorang manajer diharapkan punya loyalitas, selain jam terbang yang tinggi. sering pindah kerja bisa menunjukan ketidak loyalan orang atau meungkin dianggap kurang matang mendalami sesuatu.
END

Tombol Motivasi (Part 1)

Tombol Motivasi
Diambil dari buku ProFil
Seri NLP Populer
alephconsulting.org
Saya tidak ingin memperpanjang pembukaan ini. Mari kita langsung berlatih dan mendapatkan jawabannya dari latihan ini. Saya ingin anda mengambil secarik kertas, berdiri, cari patner dan tanyakan dua pertanyaan berikut :

1.      Apa yang anda inginkan dari sebuah pekerjaan?
2.      Apa yang penting mengenai tempat tinggal anda?

Tuliskan jawaban patner anda persis seperti apa yang mereka katakana, usahakan untuk tidak mengurangi atau menambah kalimatnya, biarkan apa adanya. Waktunya sepuluh menit.

***
Baik. Mari kita diskusikan apa yang baru saja anda tanyakan pada partner anda. Sebenarnya, apa yang sedang kita gali dari partner kita? atau, kita ingin mengetahui apa dari kedua pertanyaan di atas?
Pia       : Mencari motivasinya.
Betty   : Memahami cara kawan kita mengambil keputusan.
Hasan  : mengetahui apa yang ada di benak partner kita.
Nia      : Mengerti hal hal apa saja yang menjadi pertimbangan seseorang dalam memilih sesuatu.

RHW   : Ya. Persisnya kita sedang mencari KRITERIA partner kita dalam memilih pekerjaan maupun dalam membeli rumah. Misalnya, Betty dan Hasan, apa yang anda inginkan dari sebuah pekerjaan? Artinya, Kriteria Kriteria apa saja yang anda anggap penting ketika anda mencari sebuah perusahaan ?
Betty   : Gaji yang besar, jenjang karir yang jelas, dan kerjasamanya baik.
Hasan  : Perusahaan dengan reputasi dunia, pekerjaannya sesuai dengan latar belakang pendidikan saya, banyak tantangan, situasi kerjanya nyaman dan dekat dengan tempat tinggal saya.
Pia       : Meskipun gajinya kecil? (seluruh kelas tertawa)
Hasan  : Mana ada perusahaan dengan reputasi dunia memberikan gaji kecil? Kalaupun kecil, tidak jadi persoalan selama saya bisa memperoleh pengalaman kelas dunia, dapat memperlancar bahasa inggris dan mendapat referensi dari perusahaan bonafid. nantinya kan saya bisa cari kerja lain.
RHW   : Ok. Jadi Kriteria Betty dalam mencari kerja ada 3 : pertama gaji besar, kedua karir jelas dan ke tiga kerja sama baik. Sedangkan Hasan memiliki lima Kriteria: perusahaan kelas dunia, sesuai dengan ilmu, ada tantangan, aman, dan dekat dengan rumah. Apa artinya? artinya kalau pada suatu ketika Betty sedang mencari kerja dan tiba tiba ada kenalannya yang menawarkan pekerjaan yang memenuhi ketiga kriterianya, saya yakin Betty akan tertarik dan mencoba melamarnya. Bukan begitu Betty?

Betty   : Ya. Pasti saya akan coba kirim lamaran dan ikut tesnya.
RHW   : Bagaimana dengan Hasan, mau menerima?
HAsan : Ngga, itu bukan keinginan saya. Pokoknya kalau perusahaan kecil, apalagi jauh dari rumah saya, pasti itu menjadi pilihan terakhir saya. Kecuali kalau sudah kepepet mungkin saya mau. tapi itu juga tidak akan lama. Kalau ada kesempatan pasti saya akan mencari yang sesuai dengan apa yang saya cita citakan.
RHW   : Apa arti dari kedua jawaban Betty dan Hasan tadi? Jadi, apa itu Kriteria?
Betty   : Saya piker artinya saya dan hasan memiliki persyaratan atau Kriteria yang berbeda dalam mencari pekerjaan. Dan menurut saya Kriteria adalah saringan atau filter bagaimana seseorang memutuskan apa yang dianggap baik atau buruk, pas atau tidak pas, menguntungkan atau tidak menguntungkan, da seterusnya. Dalam kasus ini menurut saya gaji besar, karir jelas dan kerja sama baik adalah hal hal yang saya anggap baik, pas dan menguntungkan saya.
RHW   : Ya, Excellent. Apa yang dikatakan Betty betul. Kriteria atau dalam sehari harinya juga sering kita disebut sebagai nilai nilai (Values) adalah filter bagaimana seseorang menentukan baik atau tidaknya sesuatu, benar atau salahnya sesuatu, berharga atau tidaknya sesuatu, dan seterusnya. Dan untuk mengetahui Kriteria seseorang kita bisa menanyakan: Apa yang anda inginkan dari sebuah (X)? Di mana X adalah konteks yang bisa berupa apa saja, misalnya rumah, mobil, asuransi, pasangan, baju dan seterusnya. Misalnya, dalam konteks rumah saya bisa menanyakan kepada Hasan :
            Apa yang anda inginkan dari sebuahrumah?
Hasan  : Maksudnya apa Kriteria saya dalam membeli sebuah rumah ?
RHW   : Ya. Kalau anda sekarang sudah punya rumah, apa saja Kriteria anda sewaktu membeli rumah yang sekarang anda tempati?
Hasan  : Harga terjangkau, dekat dengan tempat kerja, tidak jauh dari terminal dan tetangganya baik baik.
Pia       : Apakah Kriteria bisa berubah?
RHW   : Ya. Kriteria tergantung pada konteks : apa, siapa di mana, kapan dan bagaimana persisnya. Misalnya, dulu Hasan memiliki sejumlah Kriteria dalam membeli rumah dan keputusannya tentu didasarkan pada sumber daya yang dimiliki oleh Hasan waktu itu. Kalau sekarang saya tanyakan pada Hasan apa kriterianya, mungkin sedah berubah. Betul, Hasan ?
Hasan  : Ya. Kalau sekarang : bebas banjir, lingkungan asri, aman dan fasilitas bagus.
RHW   : Jadi, Kriteria hanya valid bila ditanyakan dalam konteks yang spesifik. Artinya bila bicara rumah: rumah apa persisnya. Misalnya seseorang bisa saja berubah kriterianya ketika memilih rumah tinggal dan rumah liburan. mungkin rumah liburan kriterianya : halamannya luas, jauh dari keramaian, udara dingin dan seterusnya. Atau contoh lain, seorang gadis yang belum menikah mungkin mula mula memilih pekerjaan dengan Kriteria utama : gaji yang besar. Tapi setelah dia menikah dan sedang hamil tua, besar kemungkinannya kriterianya berubah menjadi : dekat dengan rumah tempat tinggal. Saya ragu apakah bila ditawari gaji yang lebih besar, tapi harus pindah ke kantor yang lebih jauh, dia akan menerimanya. Kecuali dalam konteks dia sangat memerlukan uang lebih pada saat itu. Jadi anda harus selalu menyebutkan konteks dengan jelas ketika bertanya pada seseorang.
           
            Saya ingin menambahkan bahwa selain merupakan filter seseorang dalam memtuskan sesuatu sebagai baik  atau buruk, Kriteria juga merupakan TOMBOL MOTIVASI seseorang atau kata kata yang dapat memicu reaksi fisik dan emosi seseorang. Misalnya : saya ingin Tanya pada yang belum menikah :”Apa yang anda inginkan dari seorang gadis calon istri anda?” (Dua orang pria mengangkat tangan)
Anwar : Saya belum punya pacar. Dan kalau bisa saya ingin mencari gadis yang seiman, taat beribadah, pintar dan setia.
Tony    : Kalau saya yang cantik, komunikasinya nyambung dengan saya dan dari keturunan yang baik baik.
RHW   : Ok. Untuk Anwar, bila ada seorang kawan yang menawarkan berkenalan dengan gadis yang persis dengan Kriteria yang anda sebutkan di atas, apa reaksi anda? apakah anda termotivasi untk berkenalan dengan gadis itu?
Anwar : Ya. tentu, Saya mau sekali. Di mana orangnya ? (sambil berdiri dan seluruh peserta tertawa)
***

Rabu, 30 November 2011

Jangan merusak pintunya, temukan kuncinya (ProFil)

Program Filter
ProFil

Sumber : Buku Seri NLP Popular – ProFil
Ditulis Oleh : RH. Wiwoho

Prolog


Jangan merusak pintunya, temukan kuncinya.

R.H. Wiwoho
Hendri masuk ke kantor saya. Wajahnya murung dan terlihat jengkel. Dia melonggarkan dasi Giani Versacenya dan membanting tubuh sekenanya.

“Aku tidak mengerti. Benar benartidak mengerti. Apalagi yang harus kuberikan? Mobil sudah, incentive sudah. Promosi jabatan baru saja diterimanya. Tapi kerjaannya?” katanya sambil menyebutkan nama salah satu manajernya. “Punya gagasan?”

“Pernah mengancam untuk memecatnya?” sahut saya.

“Aku serius nih,” ujarnya sambil menahan napas, tanda tidak senang dengan jawaban saya.

“Aku juga serius” ujarnya sambil menahan napas, tanda tidak senang dengan jawaban saya.

“Aku juga serius,” kata saya menegaskan.

Dialog pun berlangsung panjang, dan setelah kami mendiskusikan PROFIL 1 yang nanti akan dibahas dia berseru : “Oh, jadi dia memiliki arah motivasi MENJAUHI? pantas saaja, hampir semua rewards yang pernah kuberikan tidak banyak rmanfaatnya”


Dua bulan kemudian dia menelpon dan bercerita tentang perubahan perubahan besar yang terjadi pada manajernya itu.

“Anak saya males sekali belajar,” kata seorang ibu disela rehat kopi dalam salah satu seminar saya. “Saya tidak tahu, mau jadi apa dia kelak. berkali kali saya menasihatinya dan memberikan contoh anak anak yang putus sekolah dan kemudian menjadi anak jalanan. Tetap saja dia tidak mau berubah  ”

Setelah sesi pembahasan “Kombinasi Profil” selesai, si ibu menyadari bahwa dia memakai ‘kata kunci’ yang salah dalam berkomunikasi dengan anaknya. Akibatnya, dia tidak berhasil memotivasi anaknya, bahkan justru menjadi ganjalan dalam hubungan dengan sang anak.

Komunikasi adalah problem nomor satu baik di kantor, di rumah maupun di masyarakat luas. Perselisihan antar orang semakin lama semakin sering terjadi. Dari mulai operator telpon dengan prospek pelanggan, dendam anak pada orang tuanya, sampai kepala Negara yang berakhir dengan perang berkepanjangan. Komunikasi yang buruk dapat berakhir dengan pertikaian dan kebencian. Pada sisi lain  komunikasi yang tepat dapat menggerakkan seseorang pada potensi maksimalnya.

setiap orang unik dan seperti diketahui, orang berkomunikasi melalui sejumlah filter atau saringan yang dibentuk oleh masa lalu, identitas, keyakinan serta nilai nilai yang dimilikinya. Beberapa orang berpikir dengan urutan – urutan yang sistematis, sementara yang lain lebih suka melihat opsi opsi yang dimilikinya. beberapa orang tertarik pada hal hal yang baru dan berbeda, sementara yang lainnya ingin tetap status quo atau serupa dengan apa yang sudah diketahuinya.

Alangkah menyenangkannya, bila kita mempu memahami apa yang orang lain maksudkan saat dia berbicara kepada kita. Lebih lebih lagi bila kita mampu memprediksi perilakunya dari kata kata yang diucapkannya. Dan yang lebih hebat lagi, bila kita mampu menggerakkan perilakunya dengan respons yang kita berikan kepadanya.

Nah, buku ini (Seri NLP ini)  berisi  tentang tiga hal diatas yakni bagaimana MEMAHAMI, MEMPREDIKSI dan MEMPENGARUHI seseorang, dengan satu model yang saya sebut sebagai ProFIL.

Sekilas tentang ProFil
ProFil- yang selanjutnya akan ditulis dengan cara biasa : Profil- sebenarnya merupakan singkatan atau akronim dari dua kata: Pro(gram) dan Fil(terl). Program yang dimaksud di sini adalah kebiasaan atau kecenderungan orang dalam hal hal tertentu. Seperti misalnya, ada kecnderungan orang ketika berhadapan dengan penjahat dan diancam: “Harta atau nyawa?”  ada orang yang mempertahankan hartanya, mati-matian, dan bila perlu menyabung nyawa, namun ada pula orang yang lebih rela menyerahkan hartanya langsung ketimbang nyawanya dalam taruhan. kedua kecenderungan seperti ini bisa kita sebut sebagai reflex, atau respon tidak sadar atau tindakan spontan. Pola seperti ini akan terus dilakukan seseorang sepanjang konteks kejadiannya sama atau mirip.

Contoh lain. Ada orang yang memiliki kecenderungan memutuskan sesuatu dengan keyakinannya ‘sendiri’, sementara banyak orang lain mengambil keputusan berdasarkan opini atau pendapat ‘orang lain’. Dalam buku ini, kelompok orang pertama kita sebut memiliki Program Internal, dan yang kedua punya program Eksternal.

Lalu, bagaimana kita membedakan kedua kelompok orang tersebut? Dengan sebuah pertanyaan yang disebut Filter. Misalnya dalam kasus internal dan eksternal diatas, filternya adalah : “Bagaimana anda tahu bahwa anda telah melakukan (Konteks) dengan baik?”

Profil dalam buku ini dikembangkan dari Meta Program, sebuah teknik dalam Neuro Linguistic Programming (NLP) yang mula mula dikembangkan oleh Leslie-Cameron Bandler dan Richard Bandler.

Selasa, 01 November 2011

“Opsi” dan “procedural”


NLP : Meta Program (part 3)
“Opsi” dan “prosedural”
http://dheyadheyz.multiply.com/journal/item/17
Sulit sekali untuk menekan Hari agar bias duduk lama di kursi kerjanya. Ia sepertinya mempunyai begitu banyak hal yan harus dilakukan. Ada begitu banyak opsi kerja baginya dalam satu waktu. Jika kita memaksanya untuk memilih, ia akan mempunyai kesulitanuntuk menentukan mana satu diantaranya yang terpenting. Maka dari itu, ia akan lebih menyukai bekerja secara freelance karena hal nitu membuatnya lebih bias melibatkan diri ke dalam berbagai proyek berbeda.
Sifat ini sangat bebeda dengan sifat Jumat adiknya. Jumat lebih menyukai satu jalur prosedur yang jelas. Ia menyukai sesuatu hal itu bias dijalani sampai tuntas sebelum ia memulai sesuatu yang lain. Ia sangat bagus dalam mengikuti instruksi, dan bias menjelaskan segala sesuatu secara jelas dan berurutan logis. Jumat merasa sulit jika digandengkan / dipatnerkan dengan Hari. Ia menggambarkan kakaknya itu sebagai orang yang “berceceran di mana mana”.

Memahami Pola Pola “Opsi” dan “Prosedural”
Pola pola “opsi” gampang terlihat karena orang demikian menyukai keberagaman. Orang dengan pola “opsi” sering mengakali aturan dan kemudian menciptakan aturan sendiri agar orang lain mengikutinya. Ia selalu bahagia dengan pilihan baru, kesempatan baru, dan ide ide baru,. Ia terkadang enggan membuat keputusan – keputusan karena hal itu bias justru membatasi jumlah kemunghkinan yang akan dimilikinya. Baginya, kebebasan adalah hal terpenting. Ia lebih menyukai mengontrol masa depan dirinya. Jika anda mengetahui orang yang jagoan dalam memulai sesuatu, namun kesulitan untuk mengakhirnya dengan baik, besar kemungkinan ia mengoperasikan pola “opsi”.
Cirri untuyk mengidentifikasi pola pikir “prosedur” ialah saat orang bersangkutan ingin melakukan sesuatu setahap demi setahap sesuai prosedur. Dia menyukai menuntaskan sesuatu yang dimulainya, dan sering kali kebingungan jika dihadapkan pada terlalu banyak pilihan sekaligus. Ia merasa, mengikuti aturan adalah hal terbaik baginya. Ia merasa tidak nyaman jika diminta menyimpoang dari aturan atau norma. Ia juga menyukai menjelaskan sesuatu setahap demi setahap.
Perbedaan demikian bias terlihat dardalam perilaku individu maupun organisasional. Banyak orang mengasosiasikan institusi perbankan dengan pendekatan yang procedural karena para pekerjanya harus mengikuti ketat peraturan peraturan. Kalau orang orang di bank memperlakukan uang kita dengan cara itu, wah kita akan merasa nyaman. Kalau orang orang bank memperlakukan uang kita dengan cara akal akalan, kita tentu menjadi waswas.
Hal ini sangat berbeda dengan perusahaan media. Lembaga maupun orang orang media justru harus sangat kreatif dan selalu berhubungan dengan al;iran ide ide baru tanpa henti. Jika orang orang di media terlalu dikekang oleh prosedur, perusahaan bakal cepet mati.

Berkomunikasi dengan orang berpola “opsi ” dan “prosedur”
Saat berkomuniasi dengan orang yang menerapkan pola “opsi”, kunci keberhasilannya adalah dalam pilihan pilihan, kemungkinan kemungkinan, alternative alternative, keberagaman, dan sejenisnya. Letakkan saja bola di atas meja, dan biarkan ia berpikir melakukan sesuatu dengan hal itu.
Kata kata kunci untuk berkomunikasi dengan orang berpola “prosedur”, antara lain : terbukti, teruji, terandalkan, sesuai aturan, menurut ini, atau menurut itu, dan sejenisnya. Saat anda menjelaskan sesuatu pada nya, cocokan diri anda dengan perilaku mereka dengan cara melingkupi segala sesuatu berdasarkan urutan logis.    

Senin, 31 Oktober 2011

“Self ” Dan “Other”


NLP : Meta Programs (part 2)
Self ” Dan “Other”

Danny dan Harry sangat berbeda. Saat anda masuk ke ruang kantor tempat keduanya bekerja, Danny segera mengangkat wajah dan melakukan kontak mata, melemparkan senyum, dan memberikan perhatian sepenuhnya kepada siapa saja yang mengajaknya berbicara. Harry sebaliknya. Ia tampak menyerap diri sendiri. Ia hanya tertarik pada hal hal yang berpengaruh langsung pada dirinya. ia hanya au bicara pada orang lain bilamana perlu. Ia jarang ikutan obrolan dengan teman teman disela jam kantor. Harry jarang menawarkan bantuan saat ada teman lain yang sangat sibuk, sementara Danny bahkan rela meninggalkan pekerjaannya sendiri untuk menolong teman.

Memahami “Self” dan “Other”
Pola pola self dan other mencerminkan seberapa banyak kita secara naluriah menyadari dan kemudian meresponorang lain. “Self” berarti lebih focus ke diri sendiri, dan Other lebih mengarah ke orang lain.
Saat kita merekrut orang, mengetahui pola pola ini dalam diri kandiddat akan menjadi pedoman penting jika peran yang kita tawarkan adalah terkait dengan pelayanan terhadap konsumen. Orang dengan pola “Self” akan merespon orang lain hanya berdasarkan apa yang harus dikatakannya dan ia tidak terlalu peka pada komunikasi nonverbal orang lain. hal ini membuat sulit menciptakan dan membangun suasana rapport. Ia sering tampak menarik diri dan sulit melakukan kontak mata. Jika anda menjatuhkan sesuatu, ia tidak akan membungkukkan badan untuk sekedar membantu mengambilkannya. Riset yang dilakukan Rodger Bailey mengisyaratkan, dalam konteks kerja hanya ada 7% orang yang mempunyai pola “Self” dan 93% sisanya cenderung “Other”.
Orang yang memiliki pola “Other” akan sangat sadar akan perilaku dan reaksi orang lain di sekitarnya. Ia segera mengenali perubahan perubahan dalam ekspresi wajah atau bahasa tubuhorang lain. Ia secara natural lebih gampang berhubungan dengan orang lain.

Berkomunikasi dengan Orang
berpola “Self” dan “Other”
Saat anda berhadapan dengan orang berpola “Self”, cara terbaik untuk berkomunikasi adalah berkonsentrasi pada isi dan inti apa yang anda ingin katakana. Tidak perlu terlalu banyak basa basi.
Jika berhadapan dengan orang yang berpola “Other”, yang anda butuhkan lebih dul adalah bisa membuat dan membangun suasana rapport. Anda akan lebih mudah berkomunikasi dengan orang yang mengoprasikan pola pola “Other”

Selasa, 25 Oktober 2011

introduce AIDAS


AIDAS
untuk mempermudah pembelian, kita mengenal istilah AIDAS (Attention, Interest, Desire, Action, Satisfaction). Formula tersebut pada umumnya menjawab pertanyaan :





1.      Apakah anda dapat menarik perhatian prospek melalui pembukaan, penampilan, dan presentasi produk?
2.      Apakah anda menyebutkan masalah yang menjadi kepedulian prospek ?
3.      Apakah anda menawarkan solusi yang efektif ?
4.      Apakah anda meminta prospek melakukan tindakan / pembelian?
5.      Apakah konsumen puas dengan kualitas pelayanan yang diberikan ?

Pembukaan pertama (First Impression) dan presentasi produk yang disajikan harus menarik perhatian. Jika perusahaan kita menjual pakaian, sales promotion girls (SPG) dapat mengucapkan kalimat “Anda akan tampak lebih langsing / lebih sehat / lebih seksi/ lebih percaya diri” . Seksi dan uang adalah sumber  penarik perhatian.
SPG juga dapat menyebutkan suatu masalah, misalnya : apakah anda tidak bosan memakai T-shirt yang itu itu saja? Kami ada desain T-shirt terbaru yang membuat anda berpenampilan lebih elegan dan hebat.
Selanjutnya SPG dapat member solusi, misalnya : “Kami telah merancang desain T-shirt yang cantik, penuh warna”.
Terakhir menyampaikan kata kata penutup, dan meminta prospek untuk bertindak, misalnya : ”Anda hanya memperoleh T-shirt eksklusif dengan jumlah yang terbatas ini pada hari ini. Bila anda membeli 5, kamu akan member gratis 1. ”
(diambil dari buku Visual Merchandising attraction )

Senin, 24 Oktober 2011

Internal dan Eksternal


NLP : Meta Programs (part 1)

“Internal” dan “Eksternal”
Pernahkah anda bertemu orang yang selalu membutuhkan umpan balik untuk membimbingnya mengambil tindakan dan bertemu orang yang lebih sering bergantung pada penilaiannya sendiri? Kaji contoh dua individu berikut ini :
1)      Saat bernyanyi , Jodie mengetahui betul kalau ia tampil karena di hatinya sudah merasa bernyanyi dengan baik. kalau toh orang orang akhirnya memberi banyak tepuk tangan, hal itu hanya member pengesahan pada dirinya atas sesuatu yang secara naluriah telah diketahuinya. Ia tampak percaya diri. namun demikian, ia kadang – kadang menghadapi kesulitan karena sering bertindak seolah olah dirinya mempunyai semua jawaban yang benar.
2)      Caitlyn, sama sama penyanyi, perlu lebih dahulu mendengarkan applause dari penonton sebelum ia benar benar yakin telah berhasil dalam penampilannya. ia membuka pintu lebar lebar untuk feedback dari pelatihnya dan orang lain . Namun demikian, ia sangat bergantung pada pelatih untuk memberinya nasihat terhadap lagu lagu mana yang harus dipilih dan gaya apa yang patas untuk pentas.

Memahami Pola

Perbedaan dari pendekatan ini terletak pada di mana focus kontrolnya berada. hal ini bisa berada dalam diri seseorang (internal) atau bisa muncul dari sumber eksternal.

Orang dengan pola “internal” menggunakan inner feeling (perasaan dalam hati) sebagai cara utama untuk mengevaluasi keberhasilan. Dalam hati, ia bisa mengetahui bahwa ia bisa melakukan sesuatu dengan baik dan tidak terlalu memerlukan orang lain untuk mengungkapkannya. Dipandang dari sudut eksternal, hal ini bisa berarti ia tidak mau memedulikan apa yang dikatakan atau dipikirkan orang lain. ia memena sesekali butuh informasi dari luar, namun pada akhirnya selalu membuat keputusan sendiri. jika feedback tidak sesuai dengan bagaimana ia memandang sesuatu, maka ia langsung menolaknya. ia tidak suka diperintah atau diberi tahu untuk melakukan sesuatu.

Sebaliknya orang yang mempunyai pola eksternal selalu mencari bukti  dari luar untuk mengonfirmasikan kesuksesan dirinya. misalnya, bukti berupa feedback dari orang lain atau data riset. ia selalu perlu informasi eksternal untuk bisa menilai dengan pas segala yang telah dilakukannya. ia sering menggantungkan diri dari informasi eksternal sebagai penunjuk arah, dan bisa merasa langsung gagal atau tersesat jika tidak memdapatkannya.

Berkomunikasi dengan orang berpola “Internal” dan “Eksternal”

Untuk berkomunikasi dengan orang yag berpola internal, mulailah dengan menanyakan opininya dan perjelas bahwa ia mempunyai pilihan untuk merespons.

Gunakan kalimat semisal “ya………. terserah andalah”

Untuk memengaruhi orang dengan pola eksternal, pastikan ia mengetahui bahwa sesuatu yang anda sarankan adalah jalan terbaik. untuk memperkuat argument, idealnya anda harus menemukan data riset dari para pakar.

Minggu, 11 September 2011

UBAH ORANG BUANGAN JADI REBUTAN


UBAH ORANG BUANGAN JADI REBUTAN

Semangat Soetanto untuk belajar sangan mencengangkan dan saya menyebutnya sebagai professor “ajaib”. bagaimana tidak, sejak 2003 ia memegang rekor peraih empat gelar doctor sekaligus di Jepang, yaitu dibidang rekayasa elektronika dari Tokyo Institute of technology (1985), Ilmu kedokteran dari Universitas Yohoku (1988), Ilmu Farmasi dari Science University of Tokyo (2000), dan Ilmu Pendidikan dari Universitas Waseda (2003). sebuah pencapaian yang luar biasa.
Lahir dan dibesarkan di Surabaya, Soetanto harus puas dengan kehidupan sebagai pedagang elektronik. Kondisi ekonomi dan sentiment politik terhadap warha keturunan Tionghoa saat itu memaksanya untuk nekat “lari” ke Jepang. Soetanto yang awalnya bahkan tidak mengenal letak Negara Jepang, tidak pernah menduga kalau kelak ia akan menghabiskan lebih dari 35 tahun hidupnya di sana.

Saat Negara lain berebutan menawarinya status kewarganegaraan, tidakkah pemerintah menjadi tergelitik untuk menariknya pulang ? Mantan Presiden Soeharto dan Mantan Presiden Habibie ternyata pernah memintanya pulang dan DITOLAK. Barangkali kekhawatiran untuk dapat mengembangkan diri sebagai ilmuanterlalu besar, hingga lebih nyaman berada di negara yang menerimanya saat ia terbuang dari “keluarganya sendiri”.

Melalui pengajaran yang menyentuh hati setiap peserta didiknya, Soetanto membangkitkan dan mengumandangkan motivasi serta pemahaman tujuan yang ingin diraih. Dari pengalamannya, ia kemudian memotivasi mereka yang putus asa kembali bersemangat dan hidup kembali. Media menyebutnya dengan SOETANTO EFFECT.

Tidak main-main, Seotanto Effect ini dibuktikanna saat diminta mengajar di Toin University of Yokohama. Saat itu yang dihadapinya adalah 80% mahasiswa tidak ada motivasi belajar, prestasinya pun sangat rendah. Soetanto kemudian membuktikan bahwa dengan membangkitkan motivasi dan mengajak mahasiswa memahami tujuan yang ingin diraihnya, mereka bisa sama-sama bangkit. Prestasi Universitas pun perlahan meningkat.

Dengan moto hidupnya “kalau dicoba pasti bisa”, Ken Soetanto menunjukan kepada saya, anda dan kita semuabahwa rintangan sebesar apapun akan dapat diatasi. Syaratnya hanyalah semangat untuk mengubah rintangan menjadi tantangan, pemicu untuk menjadi lebihi baik. Setiap orang memiliki kekuatan untuk bangkit, berdiri menghadapi rintangan-rintangan tersebut. Ken Soetanto telah menunjukannya, dan membaginya dalam buku “SOETANTO EFFECT : UBAH ORANG BUANGAN JADI REBUTAN”.
(Andy F. Noya (Kick Andy))

PERANG PEMASARAN DI TEMPAT PENJUALAN


Pemasar saat ini haruslah dinamis dan mencaari terobosan baru dengan melakukan out of the box atau mencari marketing breakthrough. Metode konvensional yang dulu dipakai sekarang ini sudah tidak berlaku lagi. dengan akses teknologi, informasi, dan kreativitas seni yang kian tak terbatas, pemasar dituntut untuk lebih cepat bertindak dan adaptif menyikapi dinamisasi pasar.
Kreativitas dalam menarik dan menggiring konsumen agar tertarik datang ke stand/ toko/ tempat pameran misalnya, adalah dengan menciptakan special events seperti game menyusun puzzle, game menebak jumlah bola, game bermain mini golf, lomba masak, lomba fashion show, lomba penyayi cilik, dan acara acara seperti sulap, modifikasi mobil/motor, barongsai, art festifal dan lain sebagainya.
Setelah konsumen tertarik dan masuk ke toko, peran SPG (sales Promotion Girl) maupun sales force/ pramuniaga harus siap memberikan pelayanan yang prima.
Kini keunggulan produk bukan lagi merupakan faktir yang dominan. Saat ini peperangannya disebut battle of mind. artinya, produk yang mampu mempersepsikan dirinya secara emosionalah yang akan unggul.
ketika anda memasuki toko dan memilih satu merek di antara banyak merek lain, kemasan yang menarik hanyalah salah satu factor yang memengaruhi pembelian anda. Faktor lain sebenarnya sudah terprogram dalam benak anda jauh sebelumnya melalui media iklan dan sarana komunikasi pemasaran lain yang jarang anda perhatikan secara sadar, namun membentuk persepsi anda. Persepsi itulah sebenarnya yang mengendalikan anda untuk membeli atau tidak membeli. sebagian besar tindakan mereka digerakan oleh motif tidak sadar.
Cara anda mempresentasikan, mengemas, memosisikan, menjelaskan produk  atau jasa anda akan menentukan persepsi yang terbentuk dalam benak konsumen.
Seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, lahirlah konsep Customer Managemen. Konsep ini memunginkan perusahaan untuk mengenali pelanggannya dengan lebih detail. Berdasarkan data base pelanggan tersebut, perusahaan bisa juga melakukan Up Selling Cross Selling kepada pelangga sesuai dengan profil pelanggan tersebut.
Perkembangan selanjutnya dikenal dengan konsep Customer Centric dimana perusahaan menyediakan produk produk yang dibutuhkan pelanggan, bukan lagi menyodorkan produk kepada pelanggan.
Area pertempuran pemasaran di lapangan, khususnya untuk fast moving consumer goods sesungguhnya terjadi dalam tokodan di tempat penjualan, di mana konsumen dihadapkan pada begitu banyaknya merek dan produk.

(diambil dari Buku : Visual merchandising attraction)

Introducing Visual Merchandising Attraction


Visual Merchandising attraction adalah usaha memusatkan perhatian konsumen agar terfokus pada presentasi produk yang disajikan di tempat penjualan. Konsumen diharapkan terpana dan terpesona akan presentasi produk, dan mengabaikan produk lainnya. sedikit sekali yang paham bahwa tanpa atraksi visual dalam presentasi produk, dan mengarahkan perhatian konsumen, peluang penjualan akan menjadi nol. Kita harus meningkatkan factor atrakasi visual (the attractor factor) untuk menyadarkan konsumen agar focus pada produk yang kita presentasikan.

Ada 9 unsur penting yang harus diperhatikan dalam melakukan visual merchandising attraction, yaitu :
1.      Fun and entertaining (bersifat lucu dan menghibur)
2.      Engaging (menarik hati/ menyentuh unsure emosional)
3.      Boundary-breaking (memiliki unsure kejutan/ surprise)
4.      Value creating (memiliki nilai fungsional, emosional, spiritual)
5.      Connecting (koneksi dengan gaya dan komunitas)
6.      Focus (focus pada satu penyampaian pesan)
7.      Interactive dan involvement (unsur interaksi dan keterlibatan)
8.      Experensial (menyentuh 5 indra)
9.      The cool factor (sesuatu yang keren/ sekeren selebriti yang menjadi endorser)

Marketer saat ini tidak bisa semata mata menawarkan produk, namun ia harus menawarkan sesuatu yang menjadi bagian dari gaya hidup (life style) dari target market. kalau targetnya anak muda, aspek visual juga harus bisa melambangkan anak muda. efek visual juga harus bisa menciptakan Visual experience yang demikian rupa sehingga menampilkan sesuatu yang bernilai. efek experience itu diharapkan bisa membentuk awareness dan image dalam benak konsumen tentang merek atau produk. semakin tinggi unsure experience akan semakin kuat awareness dan akhirnya mendorong konsumen untuk membeli.
Lihatlah bagaimana Jco Donuts menerapkan strategi marketing dalam menawarkan modern life style. Jco tidak hanya menawarkan donat yang enak, tapi juga suasana yang enak, nyaman, menghibur, menyenangkan dan member pengalaman emosional tertentu. Untuk itu, Jco mendesain ruang café secara special. Jco mendatangkan desainer interior furniture khusus dari luar negeri, demikian juga untuk desain logo Jco. Jco juga menghidupkan ritual consumption dimana konsumen dapat menikmati donat dengan secangkir kopi,dengan mencelupkan donat ke dalam kopi.

Ingatlah bahwa toko dan rak panjang anda ibarat panggung pertunjukan. Jco, breadTalk, krispy Creame menerapkan show business di mana mereka memanggungkan open kitchen mereka untuk menarik perhatian konsumen. tidak ketinggalan pula berbagai perusahaan lain seperti Celebrity Fitness menawarkan life style serta peralatan kebugaran yang dimilikinya.

Dalam mempelajari Visual merchandising attraction (dalam buku yang ditulis oleh Rudy Jusup Sutiono), anda akan mendapat jawaban dari pertanyaan pertanyaan berikut :
·         Apa dampak dan manfaat program visual merchandising dalam kegiatan pemasaran, peningkatan penjualan, pangsa pasar, kesuksesan produk baru yang diluncurkan, peningkatan citra merek?
·         Anda tidak dapat mengendalikan konsumen, tapi anda membuat mereka lebih memperhatikan produk yang anda presentasikan.
·         Bagaimana teknik, metode, dan prinsip visual merchandising yang efektif untuk menarik rpehatian calon pelanggan sehingga dapat meningkatkan penjualan?
·         Anda akan menyadari  betapa pentingnya mengetahui space & category management, teknik negosiasi dengan modern retail outlet.
·         mungkin anda sedang bertanya-tanya, apa perbedaan antara program visual merchandising dan product display?
·         Bagaimana menerapkan indoor dan outdoor / mobile merchandising secara efektif?
·         Bagaimana menciptakan unsure holistic experiental, estetika, dan teknologi untuk mendukung presentasi produk?
·         Bagaimana memadukan program komunikasi pemasaran mereka ke dalam program dan strategi merchandising?
·         bagaimana menciptakan/ merekomendasi store design yang menarik melalui visualisasi cerita dan figure mitos yang mengakar pada alam bawah sadar konsumen?

Visual merchandising yang sukses menyangkut rpesentasi untuk mempromosikan produk dan ragam jenis produk secara lebih efektif. Hal ini berarti menyangkut penentuan segmentasi konsumen yang dituju, pengguna ruang, dan layout ruang panjang, teknik, metode dan prinsip visual merchandising yang benar.

Bagi perusahaan fast moving consumers product, seperti PR Unilever Indonesia Tbk, PT Bintang Toejoe, PT Sanbe, PT Indofood Sukses Makmur Tbk, PT Delifood Sentosa Corporindo, PT Jhonson Home Hygiene product, PT Santos Jaya Abadi, PT Nestle Indonesia, aktivitas visual merchandising telah menjadi bagian dari penting untuk menunjang sales dan program komunikasi pemasaran mereka.

Visual Merchandising Strategy
saat ini, strategi dan kreativitas program visual merchandising telah menjadi “subsistem” dari proses komunikasi pemasaran. Strategi visual merchandising dibuat dengan mengobservasi pasar (toko) untuk menemukan teknik teknik kreatif yang tepat karena penjualan suatu merek produk umumnya tidak stabil atau berfluktuasi dari bulan ke bulan. Angka-angka penjualan tersebut tidak lain mencerminkan hasil dari persaingan sales promotion, termasuk persaingan pajang produk(product display), in-store event, dan program special price/ offer dari berbagai merek yang berkompetisi. Di samping itu, angka angka penjualan, pangsa pasar, dan tingkat keberadaan produk tidak akan berarti jika produk tersebut tidak mudah terlihat oleh konsumen. perkembangan produk produk baru, packaging design dengan ragam warna yang dipajang di rak-rak, khususnya di perdaganagn ritel modern (modern retail trade) berubah dengan cepatnya. Pengaturan penempatan produk (Shelf arrangement) juga berubah setiap bulannya. Sesungguhnya, perencanaan pemasaran dimulai berdasarkan observasi, yaitu bagaimana konsumen memilih merek,  mengapa mereka memilih merek tertendu dan tidak memilih merek lain, mengapa mereka kesulitan memilih merek, mengapa mereka memilih produk pesaing, dan bertanya kepada diri sendiri aktivitas advertising dan merchaindising apa yang sebaiknya dilakukan. Data marketing dilapangan terkait informasi penjualan, informasi toko ritel, dan media advertising yang dapat digunakan untuk memperbaiki kegiatan visual merchandising, modifikasi konsep iklan, dan perubahan pola pajang produk untuk dapat memengaruhi pola pembelian konsumen, serta untuk meningkatkan metode yang terbaik untuk aktivitas advertising dan sales promotion.

Selain itu data marketing juga sebaiknya dipakai untuk mengembangkan dan memodifikasi produk produk yang akan dipajang, menentukan lokasi pajang, dan membuat metode sales promotion, misalnya P.O.P material sehingga memengaruhi konsumen untuk membeli.

Kondisi persainan, baik di tingkat local maupun internasional, semakin ketat. perusahaan hanya dapat bertahan hidup jika terus mengembangkan pelayanan kepada masyarakat dengan menciptakan visual merchandising dan pelayanan yang kreatif dan unik. Mobilisasi seluruh aktivitas perusahaan bergantung pada kemampuan perusahaan untuk memantapkan jaringan mengembangkan sistem informasi pasar ( marketing intelligence), dan informasi konsumen (consumer intelligence) secara aktif.

“Show Business”
There’s No Business
That’s Not Show Business

Tidak ada bisnis yang bukan Show Business
Dalam pemasaran saat ini tidak ada bisnis yang tidak mempertontonkan bisnisnya. Katakan selamat tinggal untuk business sepereti biasanya. Saat ini, untuk berhasil diperlukan SHOW BUSINESS yang merupakan atraksi visual dalam mempresentasikan dan menebar pesona public
(Rudy Jusup Sutiono dalam Visual merchandising attraction)

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More