This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Minggu, 11 September 2011

UBAH ORANG BUANGAN JADI REBUTAN


UBAH ORANG BUANGAN JADI REBUTAN

Semangat Soetanto untuk belajar sangan mencengangkan dan saya menyebutnya sebagai professor “ajaib”. bagaimana tidak, sejak 2003 ia memegang rekor peraih empat gelar doctor sekaligus di Jepang, yaitu dibidang rekayasa elektronika dari Tokyo Institute of technology (1985), Ilmu kedokteran dari Universitas Yohoku (1988), Ilmu Farmasi dari Science University of Tokyo (2000), dan Ilmu Pendidikan dari Universitas Waseda (2003). sebuah pencapaian yang luar biasa.
Lahir dan dibesarkan di Surabaya, Soetanto harus puas dengan kehidupan sebagai pedagang elektronik. Kondisi ekonomi dan sentiment politik terhadap warha keturunan Tionghoa saat itu memaksanya untuk nekat “lari” ke Jepang. Soetanto yang awalnya bahkan tidak mengenal letak Negara Jepang, tidak pernah menduga kalau kelak ia akan menghabiskan lebih dari 35 tahun hidupnya di sana.

Saat Negara lain berebutan menawarinya status kewarganegaraan, tidakkah pemerintah menjadi tergelitik untuk menariknya pulang ? Mantan Presiden Soeharto dan Mantan Presiden Habibie ternyata pernah memintanya pulang dan DITOLAK. Barangkali kekhawatiran untuk dapat mengembangkan diri sebagai ilmuanterlalu besar, hingga lebih nyaman berada di negara yang menerimanya saat ia terbuang dari “keluarganya sendiri”.

Melalui pengajaran yang menyentuh hati setiap peserta didiknya, Soetanto membangkitkan dan mengumandangkan motivasi serta pemahaman tujuan yang ingin diraih. Dari pengalamannya, ia kemudian memotivasi mereka yang putus asa kembali bersemangat dan hidup kembali. Media menyebutnya dengan SOETANTO EFFECT.

Tidak main-main, Seotanto Effect ini dibuktikanna saat diminta mengajar di Toin University of Yokohama. Saat itu yang dihadapinya adalah 80% mahasiswa tidak ada motivasi belajar, prestasinya pun sangat rendah. Soetanto kemudian membuktikan bahwa dengan membangkitkan motivasi dan mengajak mahasiswa memahami tujuan yang ingin diraihnya, mereka bisa sama-sama bangkit. Prestasi Universitas pun perlahan meningkat.

Dengan moto hidupnya “kalau dicoba pasti bisa”, Ken Soetanto menunjukan kepada saya, anda dan kita semuabahwa rintangan sebesar apapun akan dapat diatasi. Syaratnya hanyalah semangat untuk mengubah rintangan menjadi tantangan, pemicu untuk menjadi lebihi baik. Setiap orang memiliki kekuatan untuk bangkit, berdiri menghadapi rintangan-rintangan tersebut. Ken Soetanto telah menunjukannya, dan membaginya dalam buku “SOETANTO EFFECT : UBAH ORANG BUANGAN JADI REBUTAN”.
(Andy F. Noya (Kick Andy))

PERANG PEMASARAN DI TEMPAT PENJUALAN


Pemasar saat ini haruslah dinamis dan mencaari terobosan baru dengan melakukan out of the box atau mencari marketing breakthrough. Metode konvensional yang dulu dipakai sekarang ini sudah tidak berlaku lagi. dengan akses teknologi, informasi, dan kreativitas seni yang kian tak terbatas, pemasar dituntut untuk lebih cepat bertindak dan adaptif menyikapi dinamisasi pasar.
Kreativitas dalam menarik dan menggiring konsumen agar tertarik datang ke stand/ toko/ tempat pameran misalnya, adalah dengan menciptakan special events seperti game menyusun puzzle, game menebak jumlah bola, game bermain mini golf, lomba masak, lomba fashion show, lomba penyayi cilik, dan acara acara seperti sulap, modifikasi mobil/motor, barongsai, art festifal dan lain sebagainya.
Setelah konsumen tertarik dan masuk ke toko, peran SPG (sales Promotion Girl) maupun sales force/ pramuniaga harus siap memberikan pelayanan yang prima.
Kini keunggulan produk bukan lagi merupakan faktir yang dominan. Saat ini peperangannya disebut battle of mind. artinya, produk yang mampu mempersepsikan dirinya secara emosionalah yang akan unggul.
ketika anda memasuki toko dan memilih satu merek di antara banyak merek lain, kemasan yang menarik hanyalah salah satu factor yang memengaruhi pembelian anda. Faktor lain sebenarnya sudah terprogram dalam benak anda jauh sebelumnya melalui media iklan dan sarana komunikasi pemasaran lain yang jarang anda perhatikan secara sadar, namun membentuk persepsi anda. Persepsi itulah sebenarnya yang mengendalikan anda untuk membeli atau tidak membeli. sebagian besar tindakan mereka digerakan oleh motif tidak sadar.
Cara anda mempresentasikan, mengemas, memosisikan, menjelaskan produk  atau jasa anda akan menentukan persepsi yang terbentuk dalam benak konsumen.
Seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, lahirlah konsep Customer Managemen. Konsep ini memunginkan perusahaan untuk mengenali pelanggannya dengan lebih detail. Berdasarkan data base pelanggan tersebut, perusahaan bisa juga melakukan Up Selling Cross Selling kepada pelangga sesuai dengan profil pelanggan tersebut.
Perkembangan selanjutnya dikenal dengan konsep Customer Centric dimana perusahaan menyediakan produk produk yang dibutuhkan pelanggan, bukan lagi menyodorkan produk kepada pelanggan.
Area pertempuran pemasaran di lapangan, khususnya untuk fast moving consumer goods sesungguhnya terjadi dalam tokodan di tempat penjualan, di mana konsumen dihadapkan pada begitu banyaknya merek dan produk.

(diambil dari Buku : Visual merchandising attraction)

Introducing Visual Merchandising Attraction


Visual Merchandising attraction adalah usaha memusatkan perhatian konsumen agar terfokus pada presentasi produk yang disajikan di tempat penjualan. Konsumen diharapkan terpana dan terpesona akan presentasi produk, dan mengabaikan produk lainnya. sedikit sekali yang paham bahwa tanpa atraksi visual dalam presentasi produk, dan mengarahkan perhatian konsumen, peluang penjualan akan menjadi nol. Kita harus meningkatkan factor atrakasi visual (the attractor factor) untuk menyadarkan konsumen agar focus pada produk yang kita presentasikan.

Ada 9 unsur penting yang harus diperhatikan dalam melakukan visual merchandising attraction, yaitu :
1.      Fun and entertaining (bersifat lucu dan menghibur)
2.      Engaging (menarik hati/ menyentuh unsure emosional)
3.      Boundary-breaking (memiliki unsure kejutan/ surprise)
4.      Value creating (memiliki nilai fungsional, emosional, spiritual)
5.      Connecting (koneksi dengan gaya dan komunitas)
6.      Focus (focus pada satu penyampaian pesan)
7.      Interactive dan involvement (unsur interaksi dan keterlibatan)
8.      Experensial (menyentuh 5 indra)
9.      The cool factor (sesuatu yang keren/ sekeren selebriti yang menjadi endorser)

Marketer saat ini tidak bisa semata mata menawarkan produk, namun ia harus menawarkan sesuatu yang menjadi bagian dari gaya hidup (life style) dari target market. kalau targetnya anak muda, aspek visual juga harus bisa melambangkan anak muda. efek visual juga harus bisa menciptakan Visual experience yang demikian rupa sehingga menampilkan sesuatu yang bernilai. efek experience itu diharapkan bisa membentuk awareness dan image dalam benak konsumen tentang merek atau produk. semakin tinggi unsure experience akan semakin kuat awareness dan akhirnya mendorong konsumen untuk membeli.
Lihatlah bagaimana Jco Donuts menerapkan strategi marketing dalam menawarkan modern life style. Jco tidak hanya menawarkan donat yang enak, tapi juga suasana yang enak, nyaman, menghibur, menyenangkan dan member pengalaman emosional tertentu. Untuk itu, Jco mendesain ruang café secara special. Jco mendatangkan desainer interior furniture khusus dari luar negeri, demikian juga untuk desain logo Jco. Jco juga menghidupkan ritual consumption dimana konsumen dapat menikmati donat dengan secangkir kopi,dengan mencelupkan donat ke dalam kopi.

Ingatlah bahwa toko dan rak panjang anda ibarat panggung pertunjukan. Jco, breadTalk, krispy Creame menerapkan show business di mana mereka memanggungkan open kitchen mereka untuk menarik perhatian konsumen. tidak ketinggalan pula berbagai perusahaan lain seperti Celebrity Fitness menawarkan life style serta peralatan kebugaran yang dimilikinya.

Dalam mempelajari Visual merchandising attraction (dalam buku yang ditulis oleh Rudy Jusup Sutiono), anda akan mendapat jawaban dari pertanyaan pertanyaan berikut :
·         Apa dampak dan manfaat program visual merchandising dalam kegiatan pemasaran, peningkatan penjualan, pangsa pasar, kesuksesan produk baru yang diluncurkan, peningkatan citra merek?
·         Anda tidak dapat mengendalikan konsumen, tapi anda membuat mereka lebih memperhatikan produk yang anda presentasikan.
·         Bagaimana teknik, metode, dan prinsip visual merchandising yang efektif untuk menarik rpehatian calon pelanggan sehingga dapat meningkatkan penjualan?
·         Anda akan menyadari  betapa pentingnya mengetahui space & category management, teknik negosiasi dengan modern retail outlet.
·         mungkin anda sedang bertanya-tanya, apa perbedaan antara program visual merchandising dan product display?
·         Bagaimana menerapkan indoor dan outdoor / mobile merchandising secara efektif?
·         Bagaimana menciptakan unsure holistic experiental, estetika, dan teknologi untuk mendukung presentasi produk?
·         Bagaimana memadukan program komunikasi pemasaran mereka ke dalam program dan strategi merchandising?
·         bagaimana menciptakan/ merekomendasi store design yang menarik melalui visualisasi cerita dan figure mitos yang mengakar pada alam bawah sadar konsumen?

Visual merchandising yang sukses menyangkut rpesentasi untuk mempromosikan produk dan ragam jenis produk secara lebih efektif. Hal ini berarti menyangkut penentuan segmentasi konsumen yang dituju, pengguna ruang, dan layout ruang panjang, teknik, metode dan prinsip visual merchandising yang benar.

Bagi perusahaan fast moving consumers product, seperti PR Unilever Indonesia Tbk, PT Bintang Toejoe, PT Sanbe, PT Indofood Sukses Makmur Tbk, PT Delifood Sentosa Corporindo, PT Jhonson Home Hygiene product, PT Santos Jaya Abadi, PT Nestle Indonesia, aktivitas visual merchandising telah menjadi bagian dari penting untuk menunjang sales dan program komunikasi pemasaran mereka.

Visual Merchandising Strategy
saat ini, strategi dan kreativitas program visual merchandising telah menjadi “subsistem” dari proses komunikasi pemasaran. Strategi visual merchandising dibuat dengan mengobservasi pasar (toko) untuk menemukan teknik teknik kreatif yang tepat karena penjualan suatu merek produk umumnya tidak stabil atau berfluktuasi dari bulan ke bulan. Angka-angka penjualan tersebut tidak lain mencerminkan hasil dari persaingan sales promotion, termasuk persaingan pajang produk(product display), in-store event, dan program special price/ offer dari berbagai merek yang berkompetisi. Di samping itu, angka angka penjualan, pangsa pasar, dan tingkat keberadaan produk tidak akan berarti jika produk tersebut tidak mudah terlihat oleh konsumen. perkembangan produk produk baru, packaging design dengan ragam warna yang dipajang di rak-rak, khususnya di perdaganagn ritel modern (modern retail trade) berubah dengan cepatnya. Pengaturan penempatan produk (Shelf arrangement) juga berubah setiap bulannya. Sesungguhnya, perencanaan pemasaran dimulai berdasarkan observasi, yaitu bagaimana konsumen memilih merek,  mengapa mereka memilih merek tertendu dan tidak memilih merek lain, mengapa mereka kesulitan memilih merek, mengapa mereka memilih produk pesaing, dan bertanya kepada diri sendiri aktivitas advertising dan merchaindising apa yang sebaiknya dilakukan. Data marketing dilapangan terkait informasi penjualan, informasi toko ritel, dan media advertising yang dapat digunakan untuk memperbaiki kegiatan visual merchandising, modifikasi konsep iklan, dan perubahan pola pajang produk untuk dapat memengaruhi pola pembelian konsumen, serta untuk meningkatkan metode yang terbaik untuk aktivitas advertising dan sales promotion.

Selain itu data marketing juga sebaiknya dipakai untuk mengembangkan dan memodifikasi produk produk yang akan dipajang, menentukan lokasi pajang, dan membuat metode sales promotion, misalnya P.O.P material sehingga memengaruhi konsumen untuk membeli.

Kondisi persainan, baik di tingkat local maupun internasional, semakin ketat. perusahaan hanya dapat bertahan hidup jika terus mengembangkan pelayanan kepada masyarakat dengan menciptakan visual merchandising dan pelayanan yang kreatif dan unik. Mobilisasi seluruh aktivitas perusahaan bergantung pada kemampuan perusahaan untuk memantapkan jaringan mengembangkan sistem informasi pasar ( marketing intelligence), dan informasi konsumen (consumer intelligence) secara aktif.

“Show Business”
There’s No Business
That’s Not Show Business

Tidak ada bisnis yang bukan Show Business
Dalam pemasaran saat ini tidak ada bisnis yang tidak mempertontonkan bisnisnya. Katakan selamat tinggal untuk business sepereti biasanya. Saat ini, untuk berhasil diperlukan SHOW BUSINESS yang merupakan atraksi visual dalam mempresentasikan dan menebar pesona public
(Rudy Jusup Sutiono dalam Visual merchandising attraction)

Kamis, 08 September 2011

Attraction Power



Merebutkan perhatian konsumen adalah satu langkah penting untuk memenangkan persaingan. Bagaimana menarik perhatian konsumen atau calon konsumen di toko/ warung/ pasar swalayan / tempat pameran?... butuh strategi khusus dalam hal ini, karena di sana pulihan ribu produk lain saling bersaing merebutkan PERHATIAN. Ada yang menyebutnya stategi Visual Merchandising. program ini dipakai untuk menjangkau jutaan orang yang berbelanja (The right people), menjangkau konsumen disaat yang tepat (The Right Time), dan emnjangkau konsumen ditempat yang tepat (The Right Place).
Ketrampilan dalam dibutuhkan dalam Visual Merchandising :

  1. ketrampilan menata produk
  2.  ketrampilan memilih metode merchandising
  3. ketrampilan POP yag menarik
  4. ketrampilan menata dekorasi
  5. ketrampilan menciptakan tema yang menarik
ketrampilan tersebut dibutuhkan sehingga pesan merek/ produk atau promosi yang disampaikan dapat mengalir tepat.
setelah kita memiliki attraction power untuk menarik perhatian konsumen, langkah selanjutnya adalah bagaimana agar konsumen mau berhenti sejenak dari rutinitasnya, untuk membaca pesan yang tercermin dalam visual merchandising kita. ini dinamakan Stopping power.

Five Ways Small Businesses Can Beat Rising Mail Costs


Five Ways Small Businesses Can Beat Rising Mail CostsHere's a not-so-special delivery: The U.S. Postal Service may be insolvent by the end of the month. Hobbled by shrinking revenue and an arcane rule that requires USPS to prefund retiree health benefits where other agencies can pay as they go, the agency is contemplating shedding 3,700 post offices and hundreds of thousands of jobs.
There will no doubt be some legislative action to keep USPS afloat -- a couple of reform bills were already in the works in Congress before this announcement. The bottom line, however, remains the same: Prices will likely continue to rise while services may decline, with Saturday delivery likely next on the chopping block.
For small business owners, it may be time to review mailing habits to find a more reliable, cost-effective way to get your message to customers. Here are five suggestions:
1. Plan better. Having to spring for overnight delivery costs a bundle. Push back your mailing deadlines and send letters and packages by regular mail. As USPS deliveries may slow down, this could be even more important.

2. Prune your list. How current is the mailing list you're using? Maybe it's time to clean out your list. Send a postcard asking interested customers to respond to stay on the list. Cut the deadwood and lower your mail charges.
3. Compare costs. If USPS prices rise, competing offerings from UPS, FedEx and others may look more and more attractive. But even now -- before any changes kick in -- it might be worthwhile to reach out and see if there are cost or service advantages to switching all of your mail business to a competitor.
4. Switch to email. For letters, try an email marketing program such as AWeber orMailchimp to deliver that great-looking flier to customers' email inboxes instead of their mailboxes. If you're concerned customers won't like it, mail them and ask for email opt-in. (You'll probably be surprised how many will prefer virtual delivery.) An added bonus: if you didn't have them before, now you've captured current customer email addresses.
5. Try private electronic mail. Some big companies and government agencies are already taking advantage of new services such as Zumbox and Earth Class Mail, which allow you to send full-featured, clickable messages to customers' private electronic mailboxes for retrieval from wherever they are -- not just at home. This keeps your message out of clogged email inboxes. 
Will cutbacks at USPS affect your business? Leave a comment and let us know.
dikutip dari :  http://www.entrepreneur.com/blog/220276

Lakukan Segmentasi Hanya Jika Perlu! (1)


Ketika datang melayani pelanggan, sebuah produk dapat memilih dua jalan. Pertama, produk-produknya akan dibuat standar untuk semua pelanggan. Yang kedua, tiap produk akan dibuat berbeda untuk tiap pelanggan. Henry Ford pada 1908 berbicara tentang Model T, “Setiap pelanggan dapat memiliki mobil dicat dengan warna apapun sesuai yang ia inginkan selama itu adalah hitam”. Setelah beberapa tahun kemudian, Henry Ford mengembangkan warna lain, sesuai dengan keinginan konsumen, setelah teknologi perakitan dan pengecatan yang lebih efektif ditemukan.

http://questionpro.files.wordpress.com/2010/08/istock_000009458297xsmall.jpg

Menjadi masalah kemudian, saat konsumen semakin membesar. Kustomisasi per konsumen menjadi sulit dilakukan. Kegagalan Ford kemudian bersumber pada terlalu terkustomisasinya produk, perusahaan menjadi sulit memenuhi keinginan tiap konsumennya. Hal tersebut dikenal sebagai kompleksitas yang tidak perlu, ataupun operasional over-complicated.
Resiko tersebut kemudian memberikan pelajaran bahwa ayunan pendulum segmentasi tidak boleh terlalu jauh. Perusahaan tidak boleh terjebak dengan aneka kustomisasi, yang ternyata tidak diinginkan oleh para konsumen dan merugikan organisasional perusahaan.

Apa saja yang kemudian harus diperhatikan perusahaan saat melakukan segmentasi dan kustomisasi?

Rabu, 07 September 2011

Dengarkanlah Ketika Ia Diam


Ilustrasi dari http://ocw.hcmuaf.edu.vn

Mungkin Anda sering mengalami saat Anda bertanya pada teman perempuan Anda mengenai keadaan mereka, mereka selalu menjawab “Aku baik-baik saja.” Padahal, Anda bertanya seperti itu setelah melihat parasnya tampak sedang menyimpan sedih. Seringkali, bagi pria, hal ini dilewatkan begitu saja. Paling, ia hanya membalas “O, Okay, kalau begitu” dan lalu berlalu begitu saja. Selanjutnya, apakah teman perempuan Anda bereaksi dengan mendiamkan Anda untuk beberapa waktu atau lebih ekstrem lagi menjadi luar biasa marah pada Anda karena merasa tidak Anda perhatikan? Saya yakin keduanya pasti sering Anda alami—khususnya para pria.
Ketika perempuan sedang menghadapi masalah, biasanya mereka cenderung diam. Mereka akan sangat senang bila ada yang memberi perhatian padanya dengan sekadar bertanya tentang keadaan mereka.  Bertanya tentang keadaan adalah sebuah langkah yang baik. Tapi, hal ini tidak cukup. Ketika perempuan itu menjawab tidak ada masalah, sebaiknya Anda tidak langsung berlalu begitu saja. Sebenarnya, perempuan ingin ditanyai  lebih lanjut mengapa muka mereka masam alias tidak ceria dan sebagainya.

Bagi perempuan, diam tidak berarti mereka mau sendirian saja. Perhatian dari orang-orang sekitar mereka butuhkan. Perhatian ini bisa menjadi obat yang mujarab. Bagi perempuan, menceritakan langsung tentang perasaan maupun problem yang sedang ia hadapi kepada orang lain kadang menjadi gengsi tersendiri. Apalagi untuk perempuan modern yang seringkali memiliki self esteem yang tinggi. Mereka tidak ingin disebut sebagai perempuan lemah.  Selain itu, dengan berkeluh kesah, mereka khawatir akan memberatkan orang lain.
Bagi kebanyakan orang terutama pria akan berpikir bagaimana caranya mengetahui  keinginan perempuan saat mereka tidak mau mengatakannya. Padahal perempuan itu jelas merupakan  perempuan terdekat dan dikenal baik oleh mereka. Nah, bagaimana jika perempuan itu adalah konsumen kita. Apakah kita harus punya kemampuan telepati hanya untuk memahami semua perempuan.  Memahami  satu perempuan saja akan sangat susah, apalagi jika konsumen kita semua perempuan. Bayangkan Anda harus membaca keinginan banyak perempuan yang menjadi konsumen Anda.
No one can understand women. Beberapa pria langsung memberikan pernyataan ini jika mereka diminta untuk memahami perempuan.  Kemauan untuk memahami perempuan tentu saja menjadi hal yang pertama kali harus dilakukan. Begitu banyak perempuan tentu banyak keinginan terpendam atau unspoken needs.  Bagi perempuan, jika ada pemilik merek yang mampu membaca keinginan terdalam mereka, apa pun akan mereka lakukan untuk membela merek tersebut.
Dalam satu FGD (focus group discussion), ada sejumlah perempuan yang mengungkapkan  ingin sekali pasangannya memahami mereka tanpa mereka perlu mengatakannya. Alasan yang dikemukakan ketika ditanya bagaimana pasangannya tahu keinginan tersebut jika tidak disebutkan ternyata jawabannya adalah mereka menyukai faktor kejutan yang muncul. Apa yang mereka inginkan ternyata dipahami oleh pasangannya. Karena ini, perempuan merasa menjadi sangat istimewa.  Namun,  perempuan juga mau ditanya bila kita belum bisa memahami mereka dalam sikap diamnya tersebut.
Pasti sangat tidak mudah untuk memahami  perempuan hanya dengan membaca wajah mereka.  Sebab itu, bertanyalah pada mereka dan berikan empati. Empati di sini adalah tidak bertanya yang kesannya menginterogasi mereka. Bagi perempuan, ketika mereka memiliki keinginan terpendam terutama terkait masalah, diperlukan pertanyaan yang bernada empati. Jangan sampai ketika mereka menjawab tidak ada masalah, sementara mereka menunjukkan ekspresi wajah yang sedang bermasalah, perhatian Anda berlalu begitu saja dan malah melontarkan pertanyaan tidak empatik.
Saat berempati,  tempatkan Anda sebagai pendengar yang baik dan ajukan pertanyaan bernada empatik kepada perempuan. Ini akan jauh lebih istimewa lagi jika Anda berhasil mengidentifikasi kemauan mereka dan mewujudkan keinginan mereka. Hal ini akan memberikan efek yang luar biasa karena mereka akan merasa dipahami dan disayang. Ketika perempuan merasa disayang, efeknya adalah mereka akan dengan senang hati menyayangi produk dan merek Anda bahkan rela menjadi evangelist-nya.
Pada intinya, bertanyalah pada perempuan ketika mereka mengalami perubahan sikap. Berikan empati sehingga mereka merasa dekat dengan kita. Gunakan peluang ini sebagai media untuk memupuk kepercayaan mereka. Kalau hal ini dilakukan,  dapatkan manfaatnya dan bonusnya.
Tulisan ini dibuat dalam rangka MarkPlus Conference 2011 “Grow With the Next Marketing” Jakarta, 16 Desember 2010, yang juga didukung oleh Kompas.com dan www.the-marketeers.com

Seni Membuat Pertanyaan

Seberapa baik Anda bertanya? Banyak orang tidak berpikir mengenai bagaimana menjawab pertanyaan, tetapi tidak memikirkan bagaimana membuat pertanyaan. Apabila harus menuliskan kelebihan, Anda pasti tidak menuliskan “kemampuan untuk mengajukan pertanyaan” pada daftar kompetensi. Padahal, mengajukan pertanyaan secara efektif adalah bagian dasar pekerjaan yang membantu kita memfokuskan diri pada suatu pekerjaan.
Http://pattyfroese.com/wp-content/uploads/2011/03/question.jpg


Secara tidak sadar, kita sebenarnya telah menjadi penanya yang baik. Misalnya, ketika presentasi dilakukan dan kita merasa ada yang janggal atau tidak dimengerti, maka bahasa tubuh kita akan menunjukkan kegusaran. Akan tetapi, kita tidak mau atau mungkin malu bertanya, bahkan bingung hal apa yang seharusnya kita tanyakan. Barulah di akhir presentasi, kita biasanya akan meminta waktu sejenak untuk berpikir sebelum, misalnya, memberikan keputusan kita. Saat berpikir itu, kita membaca ulang semua bahan presentasi, mencoba mencari di bagian mana hal yang yang membuat kita gusar tadi. Itulah sebenarnya “pertanda” kita harus bertanya, dengan tepat dan baik. Dan apabila kita melakukannya setelah presentasi, maka kita telah kehilangan momentum. Presentator pun sebenarnya menyadari kegusaran kita, tetapi ia pun bingung apa lagi yang harus dijelaskan karena kita tidak bertanya!

Jadi sekarang, apa yang bisa Anda lakukan untuk meningkatkan kemampuan bertanya? Ada tiga hal yang bisa dilakukan:

Pertama, Anda harus melatih kemampuan untuk mengajukan pertanyaan tentang diri Anda. Pertanyaan ini bisa diajukan pada diri Anda sendiri maupun orang lain. Ini penting untuk mengetahui apakah hal yang selama ini Anda lakukan sudah benar, atau perlu dikoreksi. Pertanyaan tentang diri sendiri juga untuk menemukan pendekatan guna mendapatkan masukan yang konstruktif, baik pribadi maupun profesional.
Kedua, kemampuan untuk bertanya tentang rencana dan proyek harus dilatih dengan baik. Mampu bertanya dengan baik tidak hanya akan membantu diri Anda, tetapi juga orang-orang lain yang bekerja dengan Anda. Mereka dapat mengetahui letak kekurangan mereka, sehingga dapat memperbaiki diri. Dengan pertanyaan yang baik, kekurangan suatu proyek dapat segera terdeteksi, untuk dicari penyelesaiannya, juga belajar dari kesalahan.

Terakhir, Anda harus memiliki kemampuan mengajukan pertanyaan tentang organisasi. Anda tentu selalu mengamati organisasi tempat Anda berkecimpung. Di sana, Anda melihat kelebihan dan kekurangan, kadang hasrat untuk menyatakan sesuatu. Untuk bisa memahami praktek, proses, dan struktur organisasi, Anda harus bisa bertanya: Mengapa organisasi melakukan hal-hal seperti ini? Apakah ada pendekatan yang lebih baik? Mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini tanpa bersifat menyerang, akan dilihat sebagai masukan konstruktif yang mengembangkan organisasi.

Jadi apakah Anda sudah bisa menyusun pertanyaan dengan baik? Siapkan diri Anda untuk belajar membuat pertanyaan!

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More